Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lestarikan Makanan Tradisional lewat Pasar Lawas Mataram

Gregorius Bramantyo • Kamis, 14 September 2023 | 19:00 WIB
AKOMODASI UMKM: Sesi jumpa pers terkait akan diselenggarakannya Pasar Lawas Mataram di Rumah Pesik Art & Heritage Rabu (13/9/23).Gregorius Bramantyo/Radar Jogja 
AKOMODASI UMKM: Sesi jumpa pers terkait akan diselenggarakannya Pasar Lawas Mataram di Rumah Pesik Art & Heritage Rabu (13/9/23).Gregorius Bramantyo/Radar Jogja 

RADAR JOGJA - Pasar Lawas Mataram kembali digelar di halaman Masjid Besar Mataram, Jagalan, Banguntapan pada 15-17 September. Mengangkat tema “Nggugah Sepi Sarana Ngupadi Rejeki”, bertujuan untuk mengangkat pelaku UMKM dan seni di Jagalan dapat menghasilkan ide kreatif. Serta untuk meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat Jagalan.


Ketua Panitia Pasar Lawas Mataram Sulthon Abdul Aziz mengatakan, festival ini tidak hanya menjadi wahana berjualan bagi para pedagang. Tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat setempat untuk menghidupkan kembali warisan budaya kuliner.


Disebutkan, akan ada 52 tenant yang mengikuti kegiatan ini tanpa dikenakan biaya sewa. “Sehingga kami juga mematok makanan tradisional mulai dari Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu. Sedangkan makanan berat kami patok maksimal dengan harga Rp 10 ribu,” bebernya Rabu (13/9/23).


Dia berharap, kegiatan ini membuka kesadaran masyarakat di Jagalan untuk melestarikan potensi terkhusus makanan tradisional yang ada di Jagalan. Juga untuk mengingatkan pengunjung yang hadir akan memori masa kecil dengan menyajikan kuliner yang dulu pernah ada. “Beberapa menu yang dihadirkan seperti legomoro, sate kere, putri mandi, adrem, dan aneka bakmi,” jelas Sulthon.


Salah satu perintis Pasar Lawas Mataram Sabar Riyadi menjelaskan, Pasar Lawas Mataram lebih spesifik ketimbang kuliner lawas khas Kotagede. Kuliner-kuliner yang disajikan pernah menemani warga Kotagede ketika produksi perak sedang dalam masa kejayaannya. Sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an.


“Dulu dari pagi sampai malam, para perajin sering lembur dan banyak pekerja. Pada waktu itu banyak pedagang keliling menjual dagangannya pada para perajin. Begitu tren perak turun, daya beli masyarakat turun dan kuliner itu tidak muncul kembali,” ujarnya.


Selain itu, filosofi di balik ajang tahunan ini adalah merujuk pada sejarah halaman masjid sebagai tempat pasar bagi masyarakat setempat. Yakni memanfaatkan cagar budaya tersebut sebagai sumber daya ekonomi. “Kami juga tidak hanya menyediakan festival makanan saja. Tetapi kami juga menghadirkan hiburan tradisional seperti salawat Mataram, keroncong, dan tarian Ratu Mas Malang, semuanya berasal dari warga Jagalan sendiri,” tandasnya. (tyo/eno)

 

Editor : Satria Pradika
#Pasar Lawas Mataram #Masjid Besar Mataram #Bantul #makanan tradisional