BANTUL - Ribuan siswi SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Bantul menampilkan Tari Montro di Pantai Parangkusumo, Bantul, Sabtu (26/8). Tari yang dilakukan secara kolosal itu berhasil memecahkan rekor MURI penari terbanyak kategori Tari Montro.
Para penari berbaris memanjang ke belakang di pinggir pantai. Sembari mengenakan peci hitam dan kaos putih dengan memegang atribut tari yakni kipas tangan.
Selanjutnya, mereka mulai melakukan Tari Montro. Tangan para penari mulai mengayunkan kipas secara serentak. Mengikuti alunan musik yang mengiringi. Durasi Tari Montro berlangsung sekitar enam menit.
Notaris Kabupaten Bantul Desy Widyasari mencatat pecahnya rekor Tari Montro dengan jumlah lebih dari sepuluh ribu peserta di Kabupaten Bantul. "Sehubungan dengan itu, saya nyatakan dalam dokumen notaris guna dicatatkan pada Museum Rekor Indonesia (MURI) serta pemberian penghargaan plakat," ujarnya saat pengumuman pecah rekor MURI.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengucapkan rasa syukur dan bangga melihat puluhan ribu peserta terdiri dari siswi SMA/SMK/MA se-Kabupaten Bantul melaksanakan Tari Montro. Sekaligus mengukuhkan Kabupaten Bantul sebagai pusat kesenian. Ia mengatakan, Bantul adalah daerah yang memiliki infrastruktur seni yang luar biasa.
"Memiliki sekolah-sekolah seni, sanggar seni, galeri seni, dan seniman-seniman yang hebat. Bahkan makam seniman," katanya.
Halim menjelaskan, Tari Montro adalah tarian yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda khas Bantul. Pihaknya sengaja mengajak para pelajar untuk turut melestarikan tari yang sarat makna itu. Serta mengajak pelajar berkegiatan positif.
Oleh karena itu, Tarian Montro dengan puluhan ribu peserta merupakan deklarasi ke seluruh dunia bahwa Bantul adalah kota seni. Juga, menjadi pusat pengembangan seni yang berpengaruh di Indonesia.
"Karena Tari Montro ini tari endemik, tarian khas Bantul yang memiliki pesan-pesan religi. Isinya pesan-pesan moral, religi, berbuat baik kepada Tuhan dan manusia," jelas Halim.
Tari Montro sendiri merupakan perpaduan antara gending gamelan, sholawatan, serta tarian yang merupakan warisan budaya tak benda milik Kabupaten Bantul.
Tari ini diciptakan oleh Kanjeng Pangeran Yudhonegoro yang merupakan menantu Sri Sultan Hamengku Buwono VIII di Pleret untuk sarana dakwah dalam rangka Maulid Nabi Muhammad. (tyo)
Editor : Amin Surachmad