Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Djoko Pekik Sempat Jadi Penjahit Demi Bisa Melukis, Dibully Sesama Seniman Akibat LEKRA

Dwi Agus. • Senin, 14 Agustus 2023 | 02:18 WIB
USUT: Foto Djoko Pekik saat pelepasan jenazah di Plataran Djoko Pekik di Dusun Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Minggu (13/8). (Dwi Agus/Radar Jogja)
USUT: Foto Djoko Pekik saat pelepasan jenazah di Plataran Djoko Pekik di Dusun Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Minggu (13/8). (Dwi Agus/Radar Jogja)


RADAR JOGJA - Siapa sangka Djoko Pekik pernah menjadi penjahit untuk menyambung hidup. Bukan hanya untuk kebutuhan hidup. Tapi, juga demi bisa membeli perlengkapan melukis.

Profesi ini pernah dilakoni medio 1975. Tepatnya, setelah menjalani masa tahanan pada 1965 hingga 1973 akibat terlibat dalam organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). 


Pelukis Godod Sutedjo menceritakan sedikit tentang kisah Djoko Pekik tersebut. Kala itu pilihan menjadi seorang penjahit juga tak hanya untuk kebutuhan. Godod menuturkan, jiwa berkesenian Djoko Pekik memanglah tinggi. Dari menjahit kain lurik dan dikembangkan menjadi beragam jenis pakaian surjan.


“Saat merintis lukisan, jadi penjahit sehingga mengembangkan lurik. Dari itu bagaimana kembangkan usaha dari kain lurik lalu model surjan. Pendekatan awalnya memang melukis, bagaimana untuk melukis, dari pendapatan itu jadi penjahit di tahun 1975,” jelasnya ditemui di Plataran Djoko Pekik di Dusun Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Minggu (13/8).


Pada awal berkarya, kehadiran Djoko Pekik sempat menjadi pergunjingan pelukis lainnya. Ini karena keterlibatannya dalam LEKRA dianggap sebagai gerakan kiri. Terlebih pemerintah saat itu tengah getol memberantas paham yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).


Wujud penolakan masif terjadi saat keikutsertaan sebagai peserta pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) medio 1990-an. Namun karena kurator pameran memiliki pandangan yang berbeda, Djoko Pekik tetap berangkat ke Amerika Serikat.


Berawal dari sinilah nama Djoko Pekik terus melambung. Godod mengisahkan nama Djoko Pekik kala itu santer menjadi bahan perbincanngan. Hingga puncaknya muncul karya Berburu Celeng yang terjual pada harga Rp 1 miliar.

DjokoBaca Juga: Butet Kartaredjasa: Djoko Pekik Itu Mentor dan Orang Tua Bagi Anak-Anak Muda


“Harga Rp 1 miliar dibeli Pak Siswanto, dari situ melaju terus banyak yang mencari Pak Pekik karena keterlibatan pak Pekik seorang LEKRA dan banyak disorot orang. Saat mewakili Indonesia dalam KIAS ajang ini mengangkat nama pak Pekik, meski di-bully sana sini tapi Pak Pekik tetap tegar,” katanya.


Nama besar yang tersemat kepada Djoko Pekik tak menjadikan tinggi hati. Godod mengenang saat dia menjadi panitia bursa lukisan Festival Kesenian Yogyakartaa (FKY) medio 2000. Kala itu Djoko Pekik turut menyumbangkan tiga karya lukisannya.

Kala itu lukisan dijual dengan harga Rp 250 ribu perkanvas. Namun Ada syarat khusus agar bisa memiliki karya Djoko Pekik. Pembelinya harus memborong karya lukisan seniman lainnya. Pembeli terbanyak dinyatakan sah dan berhak membeli karya Djoko Pekik.


“Pak Pekik itu aneh-aneh, (lukisan) hanya boleh dibeli pelajar dan mahasiswa, yang menarik banyak orang pakai joki karena yang beli harus pakai kartu pelajar atau mahasiswa dan diundi. Sehingga yang menang akan dapatkan lukisan Pak Pekik,” kenangnya. (dwi)

Editor : Amin Surachmad
#Djoko Pekik #kebutuhan hidup #Berburu celeng