RADAR JOGJA - Kepergian Djoko Pekik meninggalkan sedih yang mendalam tak hanya bagi keluarga, tapi juga para seniman perupa di Jogjakarta, khususnya. Tak hanya dalam karya, sosok Djoko Pekik juga memiliki kedekatan emosional. Ibaratkan tak hanya sebagai maestro pelukis tapi juga sosok orang tua dan guru bagi para perupa.
Nasirun memandang Djoko Pekik sebagai seorang guru. Pria berusia 85 tahun tersebut tak pelit dalam berbagi ilmu dan pengalaman. Senantiasa mengajarkan tentang sebuah karya dan berbagai pengalaman tentang inspirasinya dalam berkarya.
"Dia guru, banyak mengajarkan orang berkeseniannya itu sandarannya benar. Artinya kemanusiaan dikedepankan dari proses berkesenian ada yang dibela dengan karyanya yaitu masyarakat marginal," jelasnya ditemui di RS Panti Rapih, Sabtu (13/8).
Djoko Pekik, lanjutnya, tak hanya fokus dalam dunia lukisan. Bentuk kepeduliannya terhadap disiplin ilmu seni lainnya juga totalitas. Terbukti dengan campur tangannya dalam mengemas sebuah peristiwa seni dan budaya.
"Pak Pekik membikin acara untuk pementasan seperti wayangan gamelan lalu Lengger Gogik, Nini Thowong, berkarya tidak hanya kanvas diluar kanvas mau memberikan teladan," katanya.
Djoko Pekik juga berpesan agar para seniman tidak bersikap ekslusif dan menjaga jarak. Ini karena peran seniman adalah turut menyuarakan keresahan di masyarakat. Adanya jarak dalam penuturan Djoko Pekik akan mematikan jiwa berkesenian para seniman.
Pesan lain juga menjaga hubungan baik antar sesama seniman. Inilah yang dicontohkan secara nyata oleh Djoko Pekik. Cara paling sederhana adalah mendatangi setiap peristiwa seni maupun ruang berkesenian. Tak cukup untuk melihat pameran tapi juga menjaga srawung.
"Yang perlu dicontoh menjadi bagian, kadang menjadi orang yang terpilih untuk diundang dan dia siap menjadi penonton. Hadir dengan kursi roda memberikan semangat motivasi untuk generasi berikutnya itu luar biasa," kenangnya.
Pelukis Bambang Herras juga memberikan pandangan serupa. Baginya, sosok Djoko Pekik adalah seniman sejati. Wujud keseniannya tak hanya hadir dalam sebuah karya tapi juga hubungan baik dengan sesama manusia.
PBaca Juga: Maestro Djoko Pekik dimata Rekan Seniman, Suka Beri Wejangan Semangat dan Spirit
Bentuk kepedulian paling nyata adalah adanya inisiasi gerakan sosial. Berupa menyisihkan sebagian kecil hasil penjualan karya dalam komunitas yang bernama Suka Parisuka. Untuk kemudian disalurkan kepada seniman yang sedang membutuhkan bantuan.
"Pak Pekik banyak membantu finansial bagaimana kolaborasi dengan seniman dan lukisan dijual disitu diperuntukkan membantu seniman yang sakit maupun yang sudah meninggal itu namanya dana abadi sosial. Sudah 12 tahun dan mungkin sudah 500 seniman yang dibantu," ujarnya.
Dalam karya-karyanya, Djoko Pekik hadir dengan goresan yang kritis. Terinspirasi dari pekikan kemarginalan masyarakat. Ciri khas inilah terwujud dalam beragam lukisannya dengan objek binatang Celeng.
"Semangat-semangat inilah yang sewajarnya dilestarikan dan dijaga oleh para seniman generasi penerus setelah pak Pekik," katanya.
Pengamat Seni dan Budaya Bambang Paningron berharap semangat seorang Djoko Pekik tetap ada. Meski raganya telah berpulang, namun perjuangannya selama ini tetap menjadi inspirasi. Tak hanya bagi para seniman tapi juga kehidupan berkemanusiaan.
"Pak Pekik itu contoh atau potret seniman yang gigih tangguh dan banyak menginspirasi anak-anak muda sekarang ini. Sangat berjasa pada perkembangan seniman Indonesia khususnya pada dorongan kepada anak-anak mudanya. Semangatnya enggak gak pernah mati enggak pernah patah apapun kondisinya," kenangnya. (dwi)