Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ekskavasi Kedaton IV Situs Keraton Pleret, Temukan Saluran Air Kuno

Editor News • Rabu, 15 Maret 2023 | 07:24 WIB
SEJARAH : Proses ekskavasi atau penggalian arkeologis benteng sisi barat Kedaton IV di Situs Keraton Pleret, Pleret Bantul, Senin (13/3). (PEMPROV DIJ for RADAR JOGJA)
SEJARAH : Proses ekskavasi atau penggalian arkeologis benteng sisi barat Kedaton IV di Situs Keraton Pleret, Pleret Bantul, Senin (13/3). (PEMPROV DIJ for RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) melalui Seksi Pemeliharaan Warisan Budaya Benda, Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya dan Seksi Museum telah menyelesaikan ekskavasi atau penggalian arkeologis benteng sisi barat Kedaton IV di Situs Keraton Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Senin (13/3). Tindak lanjut penemuan saluran air kuno dalam eskavasi benteng sisi Barat Keraton Pleret, Kamis (8/3).

Dalam eskavasi ini, tim arkeolog menemukan saluran air kuno. Terbuat dari tanah liat yang oleh masyarakat setempat disebut Plempem atau Riul. Setidaknya 8 plempem tanah liat kuno ditemukan di area ekskavasi Kedaton IV sisi selatan.

"Plempem ini mempunyai panjang setidaknya 62 centimeter hingga 66 centimeter dengan diameter 35 centimeter per riul. Masih diidentifikasi lebih lanjut terutama terkait fungsinya apakah untuk saluran pembuangan air atau saluran air bersih," jelas Tenaga Ahli Ekskavasi Danang Indra Prayudha, Selasa (14/3).

Danang menyebutkan hipotesis awal tim, saluran kuno ini satu konteks dengan benteng sisi barat keraton. Ini karena derajat kemiringan yang sama dengan benteng yaitu 10 derajat.

Hipotesis berikutnya benteng ini mempunyai saluran dari dalam ke luar yang berhenti di mulut benteng sisi dalam. Posisi dalam benteng saluran tersebut digantikan dengan bata putih ditumpuk bata merah hingga keluar benteng ada mulut saluran.

"Ini temuan yang baru pertama dan unik karena ada saluran air, kami menduga ini satu periode namun masih perlu dibuktikan," katanya.

Berdasarkan teori inilah pihaknya menetapkan hipotesis struktur yang sama. Apabila saluran air benar bagian dari benteng maka menunjukan bentengnya punya saluran air.

"Kita akan coba uji sampel tanah yang di dalam saluran isinya apa apakah itu kotoran atau air bersih, " ujarnya.

Danang menyampaikan temuan baru arkeologis era Raja Amangkurat I ini berada di lokasi yang nantinya akan dikembangkan sebagai pengembangan Museum Pleret. Maka desain museum tersebut harus menyesuaikan dengan temuan terbaru ini.

Hal ini juga telah diatur dalam Peraturan Cagar Budaya. Apabila mendirikan bangunan baru setidaknya ada jarak dua meter dari objek cagar budayanya. Temuan berawal dari penampakan tumpukan bata saat survei lapangan pada 2022.

"Dari temuan inilah kami kerjakan ekskavasi Kedaton IV tahap pertama pada 4 hingga 29 Maret 2022 untuk penelitian dan penyelamatan objek di bawahnya," katanya.

Ekskavasi Kedaton IV tahap berikutnya dilanjutkan pada 2023. Tepatnya sejak 14 Februari hingga 13 Maret 2023. Awalnya, tim ekskavasi Kedaton IV menduga ada struktur yang memanjang dari utara ke selatan.

Temuan awal ditindaklanjuti dengan pemetaan wilayah. Berupa pemasangan benang yang membentang di dua titik temuan. Pasca penggalian di bawah benang muncul temuan-temuan tumpukan batu bata yang lurus dari utara ke selatan dengan kemiringan 10 derajat.

“Kami berasumsi temuan yang ada disini ini adalah benteng sisi barat Keraton Pleret. Jika digambarkan bentengnya tidak berbentuk kotak tetapi jajaran genjang memanjang lurus dari utara ke selatan lurus," ujarnya.

Dari pengembangan ekskavasi diketahui benteng tersebut mempunyai lebar 2,7 meter. Sementara ini belum diketahui panjang dan tingginya. Penyebabnya karena kondisi benteng tersebut tidaklah utuh.

Menurutnya, kondisi benteng yang tidaklah utuh ini dikarenakan aktivitas warga di periode-periode setelahnya. Sebab sebelum dibebaskan, tanah tersebut milik warga yang sebelumnya digunakan untuk pembuangan sampah. Selain itu juga lokasi pembuatan batu bata.

"Ada kecenderungan benteng ini ketemu ketika, pertama di bawah pohon karena tidak terusik dan kedua di batas tanah warga. Sayangnya ada kendala dalam melakukan ekskavasi di Kedaton IV yaitu setiap menggali di kedalaman 1,5 meter muncul air yang menggenang meskipun tidak hujan," lanjut Danang.

Dari hasil-hasil temuan ekskavasi Kedaton IV ini, tim arkeolog memberikan sejumlah rekomendasi. Khususnya pengembangan Museum Pleret yang bisa dilakukan oleh OPD terkait.

"Melakukan mapping atau pemetaan menggunakan foto udara, membuka sisi luar setidaknya berjarak 4 meter dari temuan dan pengelolaan temuan baru menjadi site museum yang di display dengan baik agar bisa dilihat langsung masyarakat yang berkunjung ke Museum Pleret," sarannya. (Dwi) Editor : Editor News
#Eskavasi Keraton Pleret #Benteng Keraton Pleret #situs Keraton Pleret #Kundha Kabudayan DIJ