RADAR JOGJA - Padukuhan Kemusuk yang terletak di Kalurahan Argorejo, Sedayu, Bantul memiliki sejarah penting bagi Indonesia. Selain tempat lahir presiden kedua RI Soeharto, desa ini juga menyimpan sejarah kelam pembantaian ratusan warga pribumi saat penjajahan Belanda. Berikut kisahnya.
Iwan Nurwanto, Bantul, Radar Jogja
Padukuhan Kemusuk memang seperti desa-desa pada umumnya. Wilayahnya didominasi persawahan dan mayoritas masyarakatnya juga bekerja sebagai petani. Namun di balik itu, desa di sisi barat kabupaten Bantul itu menyimpan sejarah kelam. Yakni pembantaian 202 penduduk Kemusuk saat agresi militer Belanda pada 1949 lalu.
Ketua Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Mayjen TNI (Purn) Lukman R Boer mengatakan, dasar pembantaian ratusan warga Kemusuk kala itu karena tentara Belanda geram. Sebab tidak mendapatkan informasi tentang keberadaan Soeharto di desa tersebut. Hal itu yang kemudian menyulut kemarahan pasukan Belanda dan secara membabi-buta menembaki setiap laki-laki bahkan hingga balita di desa tersebut. Mayat para masyarakat pribumi pun dibakar.
Lukman menerangkan, Soeharto kala itu dicari-cari oleh tentara Belanda karena berperan sebagai pemimpin rangkaian serangan malam hari terhadap pasukan Belanda di sekitar Kantor Pos Besar, Secodiningratan, Ngabean, Patuk, Sentul, dan Pengok. Banyak korban dan bangunan yang hancur dari pasukan Belanda.
Meledaknya kemarahan penjajah saat itu juga karena Belanda tengah merasa menang karena bisa menangkap kepala negara dan beberapa menterinya. Sehingga pencarian Soeharto pun sampai dilakukan di tempat kelahirannya."Kemusuk ini seperti perisai bagi Pak Harto dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia," ujar Lukman disela seminar nasional bertajuk Memaknai Peristiwa Kemusuk-Somenggalan Dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949 yang digelar di Museum HM Soeharto, Selasa (28/2).
Sebagaimana diketahui, Kemusuk memang merupakan tempat kelahiran bagi mantan presiden Indonesia kedua itu. Soeharto lahir di desa tersebut pada tanggal 8 Juni 1921. Ia pun tumbuh dan dibesarkan oleh kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai petani.
Lukman membeberkan, genosida di Kemusuk memang menjadi menjadi salah satu sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Kendati demikian sejarah tersebut harus terus hadir di ingatan masyarakat. Karena bagaimanapun, menurutnya peristiwa Kemusuk merupakan salah satu wujud sikap patriotis warga negara dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Selain menggelar seminar, YKCB juga melakukan tabur bunga di Makam Somenggalan yang menjadi tempat peristirahatan 202 warga desa korban kekejaman Belanda. Lukman berharap dengan kegiatan tersebut nantinya generasi muda bisa tergugah kepeduliannya untuk mengenang jasa para pendahulunya. "Dengan kegiatan ini harapannya dapat menjadi ruh bagi generasi penerus bangsa agar memiliki sikap patriotisme dan nasionalisme dalam mengisi cita-cita bangsa Indonesia," harapnya. (din) Editor : Editor Content