Sekretaris Komisi B DPRD Bantul Arif Haryanto mengatakan, dinas pariwisata hingga saat ini belum terlalu optimal dalam melakukan penarikan retribusi karena belum ada intensifikasi petugas di tempat penarikan retibrusi (TPR). Contohnya di pos retribusi Pantai Parangtritis yang tidak dijaga petugas saat malam hari. Hal itu membuat banyak wisatawan yang lolos atau tidak membayar tiket untuk masuk ke destinasi. “Padahal potensi kunjungan wisatawan saat malam hari cukup besar,” ujar Arif Kamis (16/12).
Kemudian, lanjut Arif, juga adanya sistem kontrak dengan wisatawan yang menggunakan bus-bus besar. Pada sistem tersebut, ia menduga instansi terkait tidak menerapkan sistem pembayaran retribusi wisatawan dengan penghitungan satu penumpang per karcis. Namun justru ada negosiasi yang dampaknya justru membuat pembayaran retribusi tidak maksimal.
Arif menyebut bahwa sebenarnya sudah ada rencana agar penarikan retribusi wisata khususnya di Pantai Parangtritis bisa dimaksimalkan atau diminimalisasi kebocorannya dengan menggandeng pihak ketiga seperti kalurahan. Namun ia berharap sebelum kebijakan tersebut diambil. "Kedepan akan kami kelola sistem retribusi dengan dengan lebih baik lagi, apalagi jembatan baru (Jembatan Kretek II) sudah dioperasikan," sambung Arif.
Sementara terkait dengan PAD yang diprediksi tidak akan tercapai pada tahun ini. Politisi PKS itu meminta agar dispar bisa memaksimalkan potensi kunjungan wisatawan pada akhir tahun mendatang. Pihaknya pun sudah merencanakan kenaikan tiket retribusi untuk kawasan wisata pantai selatan pada 2023 mendatang.
Sebagaimana diketahui, retribusi direncanakan naik dari Rp 10 ribu menjadi Rp 15 ribu. Menurut Arif, tahun 2023 merupakan momentum yang tepat bagi pemerintah kabupaten untuk menyesuaikan tarif yang sudah direkomendasikan tersebut. Sebab situasi pada sektor pariwisata sudah cukup pulih dari pandemi dan tentu dampaknya juga akan menambah pendapatan pemerintah daerah. "Sejak awal tahun 2021 sebenarnya kami sudah pengen menaikkan tarifnya, tapi menurut pemda belum saatnya," ungkap Arif.
Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo menyatakan, bahwa pendapatan pada sektor pariwisata di tahun 2022 ini memang tidak bisa memenuhi target. Atau hanya mampu menyentuh angka Rp 27 miliar dari target sebesar Rp 32,2 miliar. Ia berdalih tidak tercapainya target tersebut lantaran kunjungan wisatawan yang belum pulih sepenuhnya dari pandemi. Serta dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
"Ketika ada kenaikan BBM pariwisata bukan menjadi prioritas karena ada kebutuhan lain yang lebih prioritas, lalu orang-orang memilih menundanya berwisatanya," beber Kwintarto. (inu/bah) Editor : Editor Content