Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan, wilayahnya merupakan sentra usaha kuliner kambing. Namun hingga saat ini, bahan baku atau kambing yang dipotong masih didatangkan dari luar daerah. Bahkan peternak lokal hanya mampu mencukupi kebutuhan daging kambing sebesar lima persen saja.
Sementara sisanya masih disuplai oleh peternak luar Bantul. "Peluangnya masih sekitar 95 persen, karena saat ini (bahan baku kambing) masih mendatangkan dari mana-mana," ujar Halim saat ditemui kemarin (8/12).
Ia menjelaskan bahwa dalam sehari setidaknya dibutuhkan 700 ekor kambing untuk mencukupi permintaan para pelaku usaha kuliner sate. Sehingga dengan kondisi tersebut tentu perlu industri breeding kambing yang cukup besar. Untuk mewujudkan hal tersebut tentu peran investor sangat diperlukan.
Menurut Halim, model industri tersebut nantinya juga bisa turut mensejahterakan masyarakat, karena hasil dari breeding atau anak dombanya bisa disebar ke masyarakat untuk usaha penggemukan. Kemudian setelah cukup layak jual, kambing yang sudah digemukkan akan diserap oleh pengusaha kuliner sate sebagai bahan baku. "Sehingga tidak perlu lagi mendatangkan kambing dari luar daerah," bebernya. Diketahui, konsep tersebut kini juga tengah dikerjasamakan antara Pemkab Bantul dengan Baznas RI.
Direktorat Pendayagunaan dan Layanan UPZ dan CSR Baznas RI Muhammad Faruq Abdillah menyatakan, Kalurahan Selopamioro akan dipilih sebagai pilot project budidaya kambing dengan sistem itu.
Untuk awalnya akan dikembangkan 100 ekor kambing indukan dan 200 ekor kambing bakalan. Kemudian juga ada pengolahan kompos serta lahan untuk hijauan atau makanan kambing. "Kami sudah survey, ada 500 meter untuk kandang dan satu hektar untuk hijauan. Di akhir Desember nanti sudah siap, dari kelompok, kandang dan ternaknya. Meskipun dombanya akan diberikan secara bertahap," terangnya. (inu/bah) Editor : Editor Content