Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jogja Darurat Sampah Makin Nyata

Editor Content • Jumat, 28 Oktober 2022 | 17:36 WIB
ORASI: Kelompok Penambang Progo (KPP) saat menuntut Gubernur DIJ untuk turun tangan menghadapi masalah pertambangan ilegal di Kali Progo di Bundaran Srandakan (31/5).(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
ORASI: Kelompok Penambang Progo (KPP) saat menuntut Gubernur DIJ untuk turun tangan menghadapi masalah pertambangan ilegal di Kali Progo di Bundaran Srandakan (31/5).(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Ketergantungan pada tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Piyungan membuat Jogja darurat sampah makin nyata. Terbukti saat ada pemeliharaan dan perbaikan TPST Piyungan, sampah menumpuk di Kota Jogja, Sleman dan Bantul. Termasuk saat uji coba pembuangan sampah dari tiga wilayah tersebut digilir.

Beberapa hari terakhir tempat pembuangan sementara (TPS) sampah di Kota Jogja ditutup. Itu karena dengan uji coba ini Kota Jogja hanya bisa membuang sampah ke TPST Piyungan pada Kamis dan Minggu. Saat jadwal pembuangan sehari kemarin, petugas hari bekerja keras mengangkut sampah yang menumpuk. “Enggak ada habisnya, baru turun dari (TPST) Piyungan, sampah sudah menumpuk lagi,” keluh Adi, salah seorang petugas di TPS Gedongtengen, Kamis (27/10).

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Jogja Ahmad Haryoko menyebut, akan memaksimalkan armada yang dimiliki untuk mengangkut sampah. Total ada 42 truk yang dioperasikan dengan berbagai jenis armada. Satu truk bisa mengangkut tiga sampai empat rit saat jadwal pembuangan sampah. Dia mengkhawatirkan sampah berpotensi meluap ke jalan raya dan menimbulkan bau yang tidak sedap karena hujan. “Kalau hujan pasti basah, itu pasti menimbulkan bau tak sedap. Kami antisipasi dengan disemprot," kata Daryoko.

Hal itu imbas uji coba yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIJ untuk mengurangi antrean truk ke TPST Piyungan. Pembuangan sampah dari yaitu Sleman, Bantul, dan Kota Jogja digilir. Kepala DLHK DIJ Kuncoro Cahyo Aji mengatakan, upaya tersebut sudah dilakukan sejak Rabu (26/10). "Ini memang untuk mengurai antrean dalam rangka penataan (TPST). Jadi tidak ditutup hanya digilir waktunya," katanya ditemui di Kompleks Kepatihan kemarin (27/10).

Kuncoro menjelaskan pada Rabu lalu (26/10) TPST hanya menerima pembuangan sampah dari Sleman, kemarin (27/10) dari Kota Jogja, kemudian hari ini (28/10) giliran pembuangan dari Bantul. Pengaturan itu diperlukan karena TPST Piyungan tengah memasuki masa pemeliharaan dan perbaikan hingga enam bulan ke depan. "Ini (pengaturan waktu pembuangan sampah) masih uji coba sehingga baru pertama ini," ujarnya.

Dia menyebut, langkah tersebut masih butuh dilakukan evaluasi. Jika dinilai efektif, tak menutup kemungkinan kebijakan tersebut akan diterapkan dalam jangka waktu panjang. "Kalau nanti memang efektif ya kita coba tata lebih baik lagi," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, dia tak menampik sejumlah sudut kota Jogja dan Sleman memang terjadi penumpukan sampah. Hal ini terjadi karena TPST Piyungan sempat mengalami penutupan pada Jumat dan Sabtu (21-22/10), ini karena adanya penataan atau pemeliharaan oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) terkait instalasi pengolahan limbah lindi. "Kemudian hari senin kami buka, karena volumenya memang tinggi. Sehingga terjadi antrean yang panjang," terangnya.

Saat ini volume sampah di TPST Piyungan rerata mencapai 750 ton dalam sehari. Di masa liburan jumlahnya mengalami peningkatan hingga lebih dari 900 ton per hari. Pun dalam waktu dekat zona transisi seluas 2,1 hektar akan dimanfaatkan untuk menampung sampah. Maka dua zona A dan B TPST Piyungan yang biasa digunakan untuk pembuangan akan dihentikan sementara aktivitasnya selama proses pemeliharaan berlangsung. "Ini karena kebetulan ada masa pemeliharaan, selama enam bulan ini akan kita isi di masa transisi," tambahnya. (wia/pra) Editor : Editor Content
#Balai TPST Piyungan #TPST Piyungan