Iwan Nurwanto, Radar Jogja, Bantul.
Cuaca cerah sangat terasa di wilayah Selopamioro, Imogiri, Bantul kemarin (2/8) siang. Nampak pula megahnya jembatan Siluk yang berada di atas aliran Sungai Oya yang lebih dikenal dengan Sungai Oyo. Menjadi penghubung wilayah Imogiri dengan wilayah lainnya seperti Kapanewon Dlingo dan Pundong.
Sayangnya, dulu kesadaran orang untuk membuang sampah pada tempatnya masih rendah. Sehingga Jembatan Siluk pun sering menjadi lokasi pembuangan sampah. Baik oleh masyarakat sekitar, maupun orang yang melintas di atas jembatan. Sampahnya yang dibuang ke sungai pun beragam. Dari sampah rumah tangga, plastik, bahkan ada pula limbah medis seperti jarum suntik.
Kondisi itulah yang menggugah Kuat bersama teman-temannya untuk merintis Jembatan Edukasi Siluk pada 2016. Sebuah gerakan yang punya misi untuk menjaga lingkungan Sungai Oya. Mulanya, gerakan tersebut diawali dengan pemasangan spanduk larangan membuang sampah dan pemasangan jaring sungai. Sayang, upaya tersebut tidak efektif. Karena masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai. "Bahkan dulu spanduk yang sudah dipasang sering hilang dicuri. Kemudian jaring pengaman sampahnya juga dipotong," ujar Kuat saat ditemui Radar Jogja kemarin.
Sempat hampir menyerah, Kuat pun teringat bahwa kala itu temannya ingin menyumbangkan 2.000 buku. Tawaran itu pun diterima, dan dimulailah pendirian taman baca di kolong jembatan. Awalnya, hanya sedikit anak-anak yang berminat untuk mau membaca.
Mengetahui kegiatan membaca adalah hal yang membosankan, Kuat pun membuka kelas menggambar dan melukin bagi anak-anak. Hal ini tidaklah sulit karena Kuat merupakan lulusan seni lukis, ia lalu membuka kelas menggambar dan melukis bagi anak-anak. Gayung bersambut, gerakan itu pun akhirnya diminati dan dinilai positif oleh masyarakat sekitar Selopamioro. Banyak orang tua yang kemudian mengantarkan anaknya agar bisa ikut belajar membaca dan melukis di Jembatan Edukasi Siluk.
Bersamaan dengan kegiatan-kegiatan itu, gerakan itu kemudian juga memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan sungai kepada anak-anak hingga orang tua. Dampaknya signifikan karena banyak sampah yang dibuang ke sungai berkurang drastis. Selain mengedukasi, Kuat juga memberi pemahaman tentang bagaimana mengelola sampah sungai agar bisa laku dijual. "Hasil dari penjualan sampah itu kami gunakan untuk menambah penghasilan masyarakat dan membiayai operasional taman baca," bebernya.
Jatuh bangun pernah dilalui para pengurus Jembatan Edukasi Siluk. Sebab pada 2017, koleksi buku yang disimpan di rak-rak kolong jembatan hanyut dihantam badai Cempaka. Namun tak berselang lama, gerakan tersebut aktif kembali dengan berbagai misi-misinya dalam mengedukasi masyarakat.
Kemudian pada 2020, gerakan Jembatan Edukasi Siluk mendapat perhatian dari salah satu perusahaan negara melalui program tanggung jawab sosialnya. Dengan bantuan biaya, lokasi taman baca yang dulunya berada di bawah jembatan, dipindah ke bangunan layak yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi sebelumnya.
Saat ini, selain ada kelas membaca dan melukis, Kuat menerangkan bahwa Jembatan Edukasi Siluk juga memiliki kelas menari, bimbingan belajar, kelas desain grafis bagi kalangan remaja, serta senam untuk ibu-ibu setiap Minggu pagi. Dalam menjalankan berbagai kelas tersebut, Kuat turut dibantu oleh volunteer yang berasal dari kalangan mahasiswa berbagai universitas di Jogjakarta.
Agar operasional Jembatan Edukasi Siluk terus berjalan, pengurus juga terus berupaya mencari sumber pendapatan lain. Seperti usaha merchandise kaos, mendirikan kafe hingga wisata jelajah sungai Oya. Sehingga masyarakat tetap bisa mengakses Jembatan Edukasi Siluk secara gratis. Dengan koleksi buku saat ini telah mencapai 4.000 buah. (eno) Editor : Editor Content