Demikian disampaikan Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Bantul Agus Sulistiyana saat menghadiri seremoni ekspor Desa Sejahtera Astra (DSA) Kriya, di Hutan Pinus Mangunan, Bantul, Selasa (26/7). Menurutnya, di wilayahnya terdapat 75 sentra industri, yang 44 di antaranya industri kreatif.
Selain itu, terdapat 128 ribu pelaku UMKM meski luas wilayah Bantul hanya 503 km persegi. Dengan banyaknya pelaku industri kreatif ini, menurutnya tidaklah heran Bantul menjadi daerah dengan ekspor tertinggi di Jogjakarta.
"Bantul ingin punya brand, jadi kota/kabupaten kreatif versi UNESCO," katanya.
Meski begitu, dia mengakui perlu upaya berat untuk menuju ke arah tersebut. Salah satunya dari minimnya bahan baku lokal dalam industri kreatif. "Kami perlu di-support bahan baku, memang kami masih mendatangkan dari luar daerah," katanya.
Padahal, kata dia, dengan ketersediaan bahan baku lokal, akan memaksimalkan potensi industri kreatif. "Alhamdulillah sekarang ini ada support dari Astra. Kami berharap kegiatan ini sinergi, bisa membentuk ekosistem baru. Usaha akan lancar, ketika ekosistemnya lengkap," katanya.
Jika seperti itu, dia optimistis pelaku industri kreatif Bantul akan berjaya dari tingkat hulu hingga hilir. "Jika ada ekosistem yang besar di tingkat nasional ini, ekonomi Indonesia bisa lebih maju. Sehingga tidak sendiri-sendiri, sasarannya akan tepat," katanya.
Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa PDTT Harlina Sulistyorini menjelaskan, desa-desa di Tanah Air harus berkembang. "Di Jogjakarta ada 392 desa, yang statusnya mandiri ada 184. Ke depan semoga ada lagi 200 desa mandiri," kata Agus Sulistiyana.
Salah satu kunci penguatan desa ini, kata dia, dengan berkolaborasi dengan pihak lain. "Tidak bisa jika hanya sendiri saja," katanya.
Untuk penguatan tersebut, dia menyebut desa bisa melakukan pengembangan BUMDes. Tata kelola ekonomi desa ditingkatkan lewat BUMDEs. BUMDes mempunyai standing legal posisi yang kuat utnuk penguatan dari hulu dan hilir. Termasuk untuk pemenuhan bahan baku.
Penasihat Darmawanita Kemenparekraf Nur Asia Uno menjelaskan, pemasaran dan inovasi industri kriya Indonesia sangat pesat. Salah satunya terbukti dari ekspor yang tinggi dari kriya dan fashion. "Perhiasan, perak, tenun, dan keraninan tangan lainnya," katanya.
Dia pun mengapresiasi program DSA. Melalui program DSA, Astra berhasil membina dan menggali potensi kreatif desa. "Ini membangkitkan perekonomian masyarakat desa," ungkapnya.
Dia pun menyebut, program ini jadi jawaban dari sulitnya pemasaran ekspor produk kriya. "Dengan kualitas bagus, kita bisa menang di tingkat dunia, dan punya pelanggan loyal," katanya.
Head of Social Engagement Astra Triyanto mengatakan, sejak 2018 DSA fokus mengembangkan potensi ekonomi masyarakat desa melalui pengembangan produk unggulan. Hingga saat ini terdapat 930 DSA di 34 provinsi. Program inipun telah mampu menyerap 16.345 tenaga kerja baru. "Pada kesempatan ini, dilakukan seremoni ekspor 18 jenis produk kriya senilai Rp 788 juta ke 14 negara seperti Perancis, Jepang, dan Amerika Serikat," katanya. (obi/ila) Editor : Administrator