RADAR JOGJA – Adanya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), berdampak pada harga jual ternak di Kabupaten Bantul. Bahkan untuk harga sapi, tembus Rp 22 juta per ekornya. Padahal sebelumnya, satu ekor sapi hanya dibanderol seharga Rp 18 juta.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo mengatakan, kenaikan harga ternak terjadi seiring dengan tingginya permintaan hewan ternak. Baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun menjelang Idul Adha.
Tidak hanya pada sapi, kenaikan harga juga terjadi pada kambing. Kisaran Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta. Jika harga normal satu ekor kambing Rp 3 juta, kini mampu tembus Rp 4 juta. “Penyebab kenaikan jelas karena hukum ekonomi. Yakni antara penawaran dan ketersediaan. Permintaannya cukup besar tetapi ketersediaannya di pasaran jarang,” ujar Joko Minggu (5/6).
Joko mengimbau, agar masyarakat tidak lagi panik. Meski temuan kasus PMK di Bantul mencapai 272 ternak, DKPP telah melakukan upaya antisipasi untuk menekan penyebaran. Dengan membatasi hewan ternak dari luar daerah. Sera desinfeksi dan pengobatan ternak sakit, masih terus dilakukan.
Dia pun memastikan ketersediaan ternak menjelang Idul Adha. Sebab dapat dipastikan, stok sapi di Bantul akan tetap aman untuk mencukupi kebutuhan kurban. Dengan catatan, tidak ada ternak yang keluar dari Bantul. “Untuk memastikan tidak ada ternak yang keluar dari Bantul, kami akan berkoordinasi dengan kepolisian,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebut, tidak ditutupnya pasar hewan saat ditemukan kasus PMK karena pemerintah masih berpihak kepada konsumen. Halim pun mendorong, agar masyarakat bisa lebih proaktif dalam upaya penanganan PMK saat ini. Dengan melaporkan ternak ke puskeswan saat memiliki gejala PMK. “Intinya masyarakat harus proaktif,” pintanya.
Adanya wabah PMK, juga berdampak pada keuntungan Paguyuban Pedagang Daging Sapi (PPDS) Segoroyoso. Setelah tiga hari mogok, penyembelihan kembali dilakukan mulai Jumat (3/6) malam. Hal ini berdasarkan pertimbangan terkait pedagang yang kelimpungan karena tidak bisa menjual ternaknya.
Meski harga ternak saat ini sedang naik, tidak berdampak pada harga daging potong. Lantaran harga jual, masih normal. “Memang untuk sekarang kalau menyembelih sapi keuntungannya tipis, tapi tidak apa-apa agar bisa kembali normal semuanya,” ucap Arwan Widodo, pengurus PPDS Segoroyoso Jumat (5/6).
Sementara Ketua PPDS Segoroyoso Rejo Mulyo mengaku, beberapa waktu terakhir ini stok sapi yang disembelih minim. Itu disebabkan karena beberapa pasar seperti Pasar Hewan Siyono, Gunungkidul, Pasar Hewan Prambanan, Sleman, dan Pasar Hewan di Muntilan, Jawa Tengah tidak mampu lagi mencukupi pasokan hewan untuk disembelih. Karena situasi PMK.
Padahal sebelum adanya PMK, PPDS Segoroyoso bisa menyembelih sampai 57 ekor sapi dalam sehari. Dan jumlah tersebut, untuk memasok kebutuhan para pedagang daging sapi di wilayah DIJ. “Untuk saat ini kami hanya bisa berharap agar pasar hewan bisa dibuka kembali,” ujar Rejo. (inu/eno)
Editor : Editor Content