Kepala DKPP Bantul Joko Waluyo mengatakan, luasan lahan tersebut tersebar di beberapa wilayah. Seperti di Selopamioro, Nawungan, Srunggo, Parangtritis, Kretek, hingga Sanden. Dengan optimalisasi lahan pasir tersebut, Joko berharap bisa meningkatkan produktivitas bawang merah di Bumi Projotamansari.
Menurutnya optimalisasi lahan merupakan langkah yang paling tepat untuk meningkatkan produksi komoditas hortikultura tersebut. Karena untuk perluasan lahan, diakuinya sulit dilakukan. “Dengan terus bertambahnya jumlah penduduk, tentu perluasan lahan baru akan sulit diciptakan. Sehingga cara yang bisa dilakukan hanya mengoptimalkan lahan yang sudah ada,” ujar Joko kepada wartawan Rabu (1/6).
Joko menyebut, optimalisasi bawang merah di lahan pasir akan dicanangkan awal Juni. Dimulainya penanaman pada bulan enam ini, diharapkan petani bisa panen serentak pada Agustus.
Sebelumnya, salah satu petani di Kalurahan Srigading, Sanden Esti Dwi Subekti mengakui, keuntungan dari komoditas bawang merah cukup menjanjikan. Sebab untuk saat ini, harga jual bawang merah memang sedang tinggi. Para pedagang setidaknya berani membeli sampai Rp 25 ribu per kilogram dari para petani. Bahkan untuk bawang merah dengan kualitas bagus, bisa dihargai Rp 30 ribu per kilogram.
Dikatakan Esti, dengan harga jual tersebut, petani sudah untung besar. Sebab biaya operasional lahan, seperti pembelian bibit, pupuk, dan obat-obatan hanya menghabiskan biaya sebesar Rp 15 ribu untuk satu kilogram bawang. Biaya operasional tersebut bisa lebih ditekan, apabila lahan petani tidak diserang hama. “Kalau panennya bagus dan hama bisa ditanggulang, pasti para petani untungnya lebih banyak,” bebernya. (inu/eno) Editor : Editor Content