Hasto menuturkan data 2021 ini tak jauh berbeda dengan 2020. Adanya pandemi Covid-19 juga tak berpengaruh terlalu signifikan terhadap angka pernikahan dini. Artinya tak ada peningkatan angka pernikahan dini setiap tahunnya.
"Kalau dibanding tahun sebelumnya, sebenarnya tidak meningkat. Yang katanya pandemi ada isu-isu meningkat, itu tidak ada," jelasnya ditemui di Pendopo Parasamya Kabupaten Bantul, Jumat (11/3).
Terkait pernikahan dini, BKKBN, lanjutnya, konsisten dalam melakukan edukasi. Bukan terfokus pada pelarangan tapi dampak jika menikah dini. Paling utama adalah kesehatan reproduksi.
Pernikahan usia dini akan berdampak pada kondisi janin dan bayi. Apabila gizi tak terpenuhi maka bisa berpotensi lahir dalam kondisi stunting. Ditambah lagi fisik sang ibu belum cukup matang jika menikah di usia dini.
"Menikah dini membuat stalunting, orang yang menikah usia 16 sampai 17 tahun panggulnya belum sampai 10 centimeter. Padahal kepala bayi itu memiliki diameter 10 centimeter kurang dikit," katanya.
Dalam kesempatan ini Hasto meminta agar tak ada lagi pandangan tabu tentang pendidikan kesehatan reproduksi. Dalam beberapa kasus, edukasi masih dianggap sesuatu yang tak pantas. Adanya anggapan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi sama dengan pelajaran berhubungan seksual.
"Pendidikan kesehatan reproduksi jangan dideskreditkan sebagai seksual education tetapi seks education itu sekadar male female bukan seksual intercost education. Pelajaran soal seks beda dengan pelajaran berhubungan seks," tegasnya.
Mantan Bupati Kulonprogo ini mengambil contoh kasus kanker mulut rahim. Dia membeberkan Indonesia saat ini berada pada urutan nomor 2 di dunia atas kasus tersebut. Salah satu penyumbang terbesar adalah minimnya pendidikan kesehatan reproduksi.
Pernikahan dini juga menjadi penyebab utama terpapar kanker mulut rahim. Ini karena sistem reproduksi belum siap. Ditambah lagi, pasangan pernikahan dini belum memahami resiko kesehatan reproduksi.
"Negara maju tahu kalau berhubungan seks saat 16 tahun resikonya apa. Sehingga mereka menyalurkannya dengan kepercayaan masing-masing. Artinya tidak membahayakan kanker," ujarnya.
Itulah mengapa Hasto selalu menggaungkan kolaborasi dengan tokoh agama. Tujuannya agar pendidikan kesehatan reproduksi tak terkesan tabu. Adanya pendekatan secara religi ini juga untuk memberikan keyakinan 100 persen kepada pasangan yang akan menikah.
Adanya gerakan ini dapat menekan dua kasus sekaligus. Pertama adalah angka stunting pada bayi yang dilahirkan. Kedua mencegah potensi angka kematian ibu muda setelah melahirkan.
"Jadi dia enggak bisa lahir banyak kematian ibu, kematian bayi. Nikah dini mempengaruhi stunting. Perannya tokoh agama tokoh penting dengan sisi pendekatan rohani," katanya. (Dwi) Editor : Editor News