Lurah Wirokerten, Rakhmawati Wijayaningrum menjelaskan, budi daya telang di Wirokerten berawal dari Padukuhan Kepuh RT 03. Keberhasilan budi daya di satu RT ini, kemudian diluaskan oleh Pemkal Wirokerten. “Jadi banyak, kadang panen besar. Kami tiap hari harus panen,” ungkapnya kepada Radar Jogja Senin (21/2).
Melimpahnya hasil panen, menumbuhkan kreativitas terhadap olahan bunga telang. Dimulailah, penggunaan pewarna alami dari bunga telang yang menghasilkan warna biru cerah. Kemudian diterapkan pada jajanan berupa makanan dan minuman. “Kami gunakan sebagai pewarna, semisal dalam membuat mie, pempek, agar-agar, kopi, dan teh,” sebutnya.
Namun, ibu satu anak ini paling kagum dengan produk tepung bunga telang. Tepung ini rendah gula, sehingga cocok bagi penderita diabetes dan dikonsumsi untuk diet. Selain itu, tepung ini dapat dikonsumsi bagi penyandang autis. “Jadi produk ini benar-benar aman. Produk ini juga sudah dipasarkan ke luar wilayah,” ucapnya.
Selain produk makanan dan minuman, bunga telang pun digunakan sebagai produk kecantikan. Misalnya untuk sabun dan lotion. Saat ini, produk dari bunga telang ini juga telah dipasarkan secara online dengan harga yang bervariatif. “Hasilnya dikelola untuk kas warga, dalam satu tahun dapat menghasilkan kurang lebih Rp 40 juta,” bebernya.
Untuk itu, pemkal terus menggencarkan budi daya dan pengembangan produk bunga telang. Pemkal pun memfasilitasi pelatihan online bagi pembudidaya bunga telang. “Kami juga memfasilitasi dari warga yang belum memiliki izin,” lontarnya.
Menurut Ketua RT 03 Kepuh Kulon Parlan, budi daya bunga telang ini berawal dari pemberian bibit oleh Ibu Nanik. Dia seorang pengusaha aneka tepung yang meminta warga membudidayakan bunga telang. Pada panen perdana, bunga telang kering dihargai Rp 1 juta per kilogram. Hal ini tentu saja menambah semangat warga untuk mengembangkan bunga telang. “Mulai jadi aneka olahan, pewarna makanan alami, sampai bahan tambahan kosmetika,” jabarnya. (fat/eno) Editor : Editor Content