Kapolres Bantul AKBP Ihsan menuturkan rekomendasi ini berdasarkan kajian. Baik dari lokasi kecelakaan Bukit Bego hingga sepanjang ruas jalan Dlingo-Imogiri. Termasuk titik-titik rawan di sepanjang jalur wisata tersebut.
“Berdasarkan hasil evaluasi kami, setiap hari lakukan rekayasa. Hasilnya, lebih safety naik dari Imogiri. Ini masih wacana ya, semua kendaraan bus besar naik melalui Imogiri ke atas. Tidak lagi dari Mangunan ke bawah. Kalau pulang lewat Patuk,” jelasnya ditemui Mapolres Bantul, Rabu (16/2).
Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan instansi terkait. Kaitannya adalah kesepakatan bersama atas penerapan kebijakan lalulintas. Termasuk memberikan rekomendasi kajian lalulintas dari Satlantas Polres Bantul.
Pihaknya juga akan membuat semacam cek point atau pos. Fungsinya untuk mengawasi kelayakan bus sebelum melaju ke arah Dlingo. Apabila tak layak, maka kendaraan bus besar wajib putar balik.
“Pengamatan dari Unit Lantas melajunya tetap dari bawah ke atas. Ini untuk bus besar tapi kendaran kecil silakan. Keterangan dari Dishub memang diperbolehkan lewat situ,” katanya.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sendiri sudah menerbitkan rekomendasi pasca analisa rute Jalan Imogiri-Dlingo. Lebih tepatnya ruas jalan di area Bukit Bego. Lokasi ini merupakan titik kecelakaan bus PO Gandos Abadi yang menyebabkan 13 orang meninggal dunia.
Investigator KNKT Ahmad Wildan memastikan ada sejumlah analisa. Seluruhnya telah dirumuskan menjadi rekomendasi. Untuk kemudian diteruskan kepada jajaran Bina Marga maupun Pemprov DIJ.
"Tadi sudah kami bagi dan tetapkan apa yang harus dikerjakan oleh Dinas Perhubungan provinsi, lalu Sudin Bina Marga. Paling mendesak adalah agar pemerintah provinsi DIJ menyusur road hazard mapping," ujar Wildan beberapa waktu lalu.
Hazard mapping, lanjutnya, tidak hanya pada jalur jalan Dlingo-Imogiri. Dia juga menyarankan seluruh jalur destinasi wisata di Jogjakarta. Ini karena kondisi jalan beberapa destinasi wisata cenderung rawan.
Wildan memaparkan kondisi jalan ada yang berkelok. Disambung dengan turunan dan tikungan tajam. Apabila supir tidak paham rute maka berpotensi memunculkan kecelakaan.
“Setelah ada hazard mapping maka bisa menjadi pedoman untuk memasang rambu-rambu yang lebih tepat. Kami minta Dishub provinsi memasang papan peringatan menggunakan gigi rendah di jalan menurun. Tadi sudah disepakati," katanya.
Rekomendasi untuk Sudin Bina Marga adalah pemasangan jalur penyelamat dan kolom jebakan. Setidaknya perlu ada 2 titik jalur penyelamat sebelum kawasan Bukit Bego. Untuk kolom jebakan berada di sebelah kanan, sedangkan jalur penyelamat di sebelah kiri.
Jalur penyelamat adalah sebuah jalur menanjak di sisi kiri jalan. Jalur tersebut berfungsi apabila ada kendaraan yang mengalami rem blong. Sementara kolom jebakan berbentuk kolom dengan isi batuan gravel.
“Begitu truk atau bus masuk akan njeblos masuk ke batuan gravel, kalau bablas ke depan sudah dikasih ban. Kalau nabrak tidak akan ke mana-mana karena sudah terjepit oleh batu," ujarnya. (dwi) Editor : Editor News