Berdasarkan analisis, ada kegagalan pengereman. Hipotesanya berupa supir terlambat melakukan pengereman. Adapula kegagalan sistem pengereman sehingga menyebabkan bus menabrakdinding tebing.
"Kami lihat terakhir di sini enggak ada jejak pengereman, itu fakta. Itu nanti dianalisa baru bisa ketahuan," jelasnya saat meninjau di lokasi kejadian kecelakaan bus, Senin (7/2).
Timnya melakukan kajian di lokasi kecelakaan sejak Senin pagi. Tak hanya mencari jejak rem tapi juga kontur jalan. Berupa pengukuran geometri jalan sekitaran kecelakaan maut terjadi.
Hasil dari analisa adalah rekomendasi kepada pemegang kepentingan. Terutama terkait perlintasan bus pariwisata di jalan Imogiri-Dlingo. Apabila berbahaya maka terlarang bagi bus pariwisata untuk melintas.
"Kalau memang geometrinya ini cukup ekstrem untuk bus besar, akan rekomendasikan agar bus besar itu seperti di Dieng. Dia berhenti di lokasi tertentu terus naiknya pakai kendaraan kecil, shuttle," katanya.
Dia berjanji analisa akan keluar secepatnya. Tujuannya agar para pengguna kendaraan aman dari potensi kecelakaan. Terutama bus pariwisata dalam ukuran besar.
Fakta lain dari KNKT adalah temuan jalan turunan. Berdasarkan pengamatan, tempat lokasi kecelakaan cukup curam. Dikuatkan dengan kriteria korban meninggal dalam kecelakaan tersebut.
"Jadi kami juga akan lihat di busnya bagaimana situasi dari kursinya apakah masih nempel semua. Terus apakah di busnya ada sabuk pengamannya," ujar Surjanto. (dwi) Editor : Editor News