SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja
Matahari di atas kepala dengan cuaca panas, perlahan jadi teduh ketika masuk Padukuhan Priyan, Trirenggo, Bantul. Berderet sayur-mayur dalam polybag di gang. Pelataran rumah warga pun tak dibiarkan kosong, yang tertanami pohon dan bunga hias.
Jajaran kebun vertikal dengan pot dari botol bekas menyita perhatian. Seledri tumbuh rimbun di dalamnya. Jenis tanaman yang biasanya hanya subur di iklim dingin.
“Kami baru di tahap awal pengembangan seledri,” ucap salah seoerang tokoh masyarakat di Priyan, Kuat Mulyo Pamungkas, saat ditemui saat tengah merawat tanaman seledri di kampungnya (17/12).
Kampung ini mulai mengembangkan seledri sekitar tiga bulan belakangan. Sebuah pilihan yang cukup berisiko, lantaran tanaman dengan nama latin Apium Graveolens L itu sensitif dengan paparan sinar matahari berlebih di iklim panas. “Justru itu kami memilih seledri karena jarang dibudidayakan di Bantul,” ungkap pria 48 tahun itu.
Ya, kebutuhan seledri sejauh ini memang dipasok dari luar daerah. Umumnya diambil dari kawasan Jawa Tengah dengan iklim dingin seperti Kopeng dan Magelang. “Tanaman ini tidak bisa tumbuh subur di Bantul. Kami coba kembangkan, ternyata bisa,” ujarnya di rimbunan seledri yang berderet di dinding rumah warga.
Keseriusan Priyan dalam budidaya seledri awalnya ditekuni hanya oleh RT 01. Mengajak beralih, Kuat menuntun Radar Jogja memasuki sebuah bilik dengan pelindung jaring cahaya. Bilik itu ternyata green house dan di lokasi inilah penyemaian seledri dilakukan. Sebentar menyapa beberapa rekannya, ayah dua orang putra ini menekankan, “Kami sudah serius, tinggal nanti diperbanyak saja.”
Penyemaian berhasil berbekal kemampuan bercocok tanam. Lantaran penggerak pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK) umumnya juga merupakan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Bumi Nyawiji. “Bibitnya kami beli depot tanaman, dibantu Pak RT dan ketua KWT. Semua kompak, ya itulah hebatnya,” tunjuknya pada hasil semaian seledri usia delapan minggu.
Ketua KWT Bumi Nyawiji Semiati yang kebetulan sedang berada di green house turut menimpali, bibit hasil persemaian nantinya dibagikan kepada warga secara gratis. Saat ini hampir seluruh warga di RT 01 Priyan sudah menerima. Selanjutnya akan diperluas ke RT lainnya. “Seledri yang kami kembangkan tidak terlalu terdampak pada hama. Tapi musuh utamanya adalah panas matahari,” keluhnya.
Oleh sebab itu, sebagian seledri yang dianggap berusia cukup dewasa sengaja dijajarkan di tepi jalan. Guna membiasakan tanaman yang berkhasiat menurunkan tekanan darah dan asam urat itu, terpapar sinar matahari secara langsung. “Ada yang layu sih, tapi juga ada yang tetap segar,” sebut perempuan 52 tahun itu.
Tapi warga Priyan bukan hanya sekadar menanam. Seledri yang dibudidayakan juga dikreasikan dalam berbagai olahan, baik makanan maupun minuman. Rutin dua minggu sekali anggota PKK melakukan pertemuan. “Nah, dipertumuan itu kami bareng-bareng buat olahan,” bebernya.
Berbagai olahan yang berhasil dikreasikan dari seledri adalah makanan berupa sempol, keripik, pangsit, dan kue. Sementara untuk minuman, warga mengolahnya jadi jus dan cendol. “Pemasarannya bukan cuma di kampung, beberapa olahan juga sudah dijual di luar kampung,” tegasnya.
Salah seorang pengembang olahan seledri adalah Alfiani. Perempuan 43 tahun ini mengolah sempol dengan bubuhan seledri. “Rasanya jadi lebih gurih dan varian ini jadi favorit loh,” tandas ibu tiga anak itu. (laz) Editor : Editor Content