Wakil Kepala SMAN 1 Sewon Bidang Kesiswaan, Sajuri Syahid menuturkan, sejatinya dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas tidak ada latihan olahraga. Namun berdasar anjuran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) latihan dapat digelar secara online. "Ada penugasan dari sekolah, tapi (aturan, Red) tidak berlaku untuk semua cabor," ujarnya ditemui di taman SMAN 1 Sewon, Bantul Selasa (2/11).
Beberapa cabor tetap diperkenankan menggelar latihan langsung. Misalnya cabor panahan yang tidak melibatkan persentuhan antar pemain. "Cabor yang tidak bersentuhan langsung bisa, seperti panahan tidak masalah (latihan langsung, Red)," cetusnya.
Selain cabor yang tidak melibatkan persentuhan, cabor perorangan juga diangap aman. Dalam melakukan latihan langsung. Seperti cabor bulutangkis, tenis, dan tenis meja tetap dapat digelar. "Cabor perorangan bisa. Kalau yang beregu belum bisa (latihan rutin, Red)," bebernya.
Siswa KKO cabor beregu masih utamakan gelar latihan secara online. Tugas oleh guru disingkronkan dengan pelatih. "Jadi memang ada penugasan yang jelas. Seperti sepak bola dan voli," sebutnya.
Kendati begitu, pria yang mengampu mapel penjaskes ini mengatakan, latihan siswa KKO beregu mulai ada pelonggaran. Setelah pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) turun ke level dua. "Jadi ada pelonggaran beregu. Tapi tidak setiap hari kami (latihan, Red), selang seling. Seminggu satu kali, kami tetap ketemu satu kali latihan," ungkapnya.
Latihan dilakukan untuk menjaga keterampilan siswa. Lantaran siswa masih harus jalani seleksi. "Latihan terus, tapi kompetisi persiapan pekan olahraga pelajar daerah (POPDA) belum digelar, sifatnya hanya seleksi. Di sekolah kami ada 12 cabor," paparnya.
Dijelaskan, hanya sekolah dengan atlet yang masuk delapan besar yang dapat mengikuti. Seleksi pertama dilakukan oleh sekolah terhadap atlet yang berkompeten untuk dikirim. "Hanya beberapa sekolah yang memiliki atlet bagus dikirimkan untuk seleksi. Tidak ada pertandingan resmi," jelasnya.
Pria yang juga menangani KKO cabor sepakbola ini pun mengaku menyesal, akibat kompetisi olahraga tingkat SMA ditiadakan. Namun, dia maklum, kesehatan siswa jadi hal yang lebih penting. "Kalau disesalkan iya. Tapi kondisi seperti ini, kita nggak bisa. Kami nggak berani, kalau tetap mengadakan dampaknya juga nggak bagus. Risikonya lebih tinggi," tegasnya.
Sebelumnya, Kasubag TU Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul, Nur Zuhaida membenarkan, gelaran kompetisi masih minim. "Hanya kompetisi secara online yang boleh digelar," tandasnya. (fat/bah) Editor : Editor Content