Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lansia Sebatang Kara Jadi Hambatan Penanganan Covid-19

Editor Content • Selasa, 10 Agustus 2021 | 18:00 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Bantul mencatat, terdapat sekitar 6.000 lanjut usia (lansia) yang tinggal seorang diri atau sebatang kara. Mereka sebetulnya masih memiliki anggota keluarga, namun tidak dipedulikan. Hal ini ternyata turut menghambat penanganan Covid-19 sekaligus menimbulkan permasalahan sosial.

Ketua Satgas Kalurahan Bantul Kuswandi membenarkan, timnya mengalami kesulitan dalam mengkondisikan lansia sebatang kara. Sebab dalam kondisi pandemi, satgasnya harus bekerja ekstra. “Apalagi kalau seperti di wilayah kami lansia hidup sendiri dan terpapar,” keluhnya dihubungi Radar Jogja kemarin (9/8).

Kuswandi menyebut, ada dua lansia sebatang kara yang tengah ditangani oleh satgasnya saat ini. Di mana satgasnya mengalami keterbatasan komunikasi. “Untuk pantauan tidak semudah yang muda, bisa melalui seluler. Ini harus disambangi setiap hari bersama teman-teman puskesmas untuk pantau kesehatan,” paparnya.

Kuswandi dan timnya pun tidak dapat menitipkan lansia sebatang kara yang terpapar Covid-19 kepada warga sekitar. Sebab tetangga lansia tersebut juga tidak berani memberikan bantuan. “Akan tetapi untuk jaring pengaman sosial untuk kebutuhan sehari hari tetangga dan warga mengakomodir,” jelasnya.

Tercatat, setidaknya ada sekitar 200 lansia sebatang kara di Kalurahan Bantul. Mereka tersebar di 12 Padukuhan dan 93 RT. “Kesulitannya adalah pantauan kesehatan dan kadang lansia tersebut ada yang agak susah di kasih arahan dan pengertian untuk taat prokes,” sebutnya.

Kepala Bidang Pelayanan dan Rehab PMKS Dinsos P3A Bantul, Tunik Wusri Arliani bahkan menyebut, jumlah lansia sebatang kara di Bantul tinggi. Namun, Tunik tidak melakukan perbandingan dengan wilayah lain. “Lansia banyak yang tinggal sendiri di Bantul,” cetusnya.

Kendati begitu, Dinsos P3A terus melakukan pendataan lansia sebatang kara. Untuk memastikan jumlah lansia yang belum tertangani. Tunik lantas menjelaskan, lasia yang belum tertangani ini merupakan lansia terlantar.

Awalnya, mereka adalah lansia yang tinggal sebatang kara. Anggota keluarga yang tidak perduli, menjadikan lansia hidup di jalanan dan tidak terurus.“Cukup banyak, lansia punya keluarga tapi tidak peduli. Itu yang kami tangani yang punya keluarga tapi tidak peduli. Lansia sendiri terlantar 6.000 sekian yang tidak diperhatikan keluarga,” ungkapnya.

Untuk itu, Dinsos P3A bekerjasama dengan balai atau panti yang mampu menampung lansia. Guna memberi tempat tinggal bagi lansia yang benar-benar terlantar. “Terlantar, dia tidak menempat di satu tempat. Bisa kemana-mana nanti bisa menjadi gepeng, karena tidak memiliki tempat tinggal dan saudara,” sebutnya.

Saat diwawancarai, Tunik pun mendapat laporan. Seorang lansia sebatang kara penghuni rusunawa di Bantul tengah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, lansia tersebut ternyata terpapar Covid-19. “Dia tinggal sendiri di rusunawa, dia sakit. Pengurus rusunawa menghubungi saya untuk melaporkan membantu menangani lansia ini,” bebernya.

Setelah dilakukan pengecekan, ternyata lansia tersebut ber-KTP Kota Jogja. Sehingga menyulitkan pengurus rusunawa yang membantunya. “Saya bilang kalau dia KTP Bantul, saya tangani. Tapi kalau dia KTP Kota, seharusnya yang menangani kota. Saya yakin Kota bisa, kalau ada warga sakit yang dirawat di RS dan tidak memiliki jaminan kesehatan, pasti akan diupayakan melalui jamkesda,” cetusnya. (fat/pra)

 

  Editor : Editor Content
#Bantul #Dinsos-P3A