Salah seorang warga Bawuran I RT 06, Pleret, Bantul Bambang Riyanto mengucap terima kasih. Lantaran perjuangannya bersama warga lain di sekitar TPST Piyungan didengar oleh pengelola. “Demi warga yang sekian tahun menderita, tidak ada keluh kesah apapun. Setiap hari bekerja cari nafkah untuk anak kita tapi tidak dihiraukan. Tapi syukur, alhamdulillah berkat Pak Fauzan terpenuhi sudah,” ujarnya Rabu (23/12).
Fauzan yang dimaksudnya adalah, Kepala Balai Pengelolaan Sampah TPST Piyungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIJ Fauzan Umar. Fauzan sendiri menyebut, sudah memediasi warga sekitar TPST Piyungan bersama Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi (PUP-ESDM) DIJ. Guna mencari solusi dari keluhan warga. Agar warga berkenan untuk membuka akses jalan menuju TPST Piyungan. Sehingga TPST Piyungan dapat beroperasi kembali. “Dermaga sudah kami tata, untuk membuat drainase, alhamdullillah, warga sudah mengizinkan,” ucap Fauzan.
Sementara untuk lampu penerangan yang mati hampir enam bulan, Fauzan berkilah, sudah mengatakan pada warga untuk menyampaikan tuntutannya. Setelah itu akan dicarikan solusi bersama dinas terkait. “Nanti akan kami mediasi dengan dinas terkait,” sebutnya.
Dipahami, warga sekitar TPST Piyungan hanya bisa menghubungi pegelola bila terjadi masalah. Namun, Fauzan meminta pemakluman, penanganan masalh tidak dapat dilakukan dengan seketika. Diakuinya, tidak mudah mengatasinya dan ada persyaratan lagi. Sehari rata-rata 600 ton sampah dari Sleman, Bantul dan Kota Jogja masuk ke TPST. “Saya bersama warga, mudah-mudahan ini tidak ada yang tidak bisa terpenuhi tuntutannya. Tapi yang wajar, yang memang bisa dipenuhi,” sebutnya.
Sementara itu beroperasinya kembali TPST Piyungan Rabu (23/12) masih dilakukan pembatasan. Armada swasta belum diperkenankan untuk membuang sampah ke TPST yang sudah overload itu. Akibatnya, warga belum mendapat kepastian, kapan sampah rumah tangganya diangkut.
Salah satu warga yang berlangganan armada swasta adalah Alfina Irfai Khoriyah. Ibu satu orang putra ini merasa risau. Lantaran sampah di muka rumahnya sudah menumpuk. “Banyak banget, aku jadi kepikiran. Risikonya itu kan sumber penyakit. Nggak tahu juga mau diambil kapan. Soalnya kami nggak punya kontak bapak sampahnya,” keluh Alfina ditemui di rumahnya, Wirokerten, Banguntapan, Bantul Rabu (23/12).
Alfina mengaku memproduksi beberapa macam sampah. Di antaranya adalah sampah plastik, makanan, dan kain perca. Risau tumpukan sampah yang semakin tidak terkendali, perempuan 25 tahun itu bahkan memutuskan tidak menggunakan pampers. “Daripada menambah sampah dan nggak tahu mau dibuang ke mana,” cetusnya.
Terpisah, Ketua Paguyuban ‘Eker-eker Golek Menir’ Sodik Marwanto justru mengungkap, anggotanya sudah mulai operasi kemarin. Tapi, dia diminta oleh pengelola TPST Piyungan untuk tidak langsung membuang sampah Keputusan untuk operasi, disebut Sodik sebagai siasat. Bila sampah baru diambil hari ini, dia tidak dapat memenuhi target. Sementara pelanggan sudah banyak yang mengeluh. “Dua armada saya penuhi semua. Membuangnya besok pagi (hari ini, Red). Karena bila tidak saya ambil sekarang, besok saya tidak bisa kejar penumpukan. Jadi kalau ambil sekarang, besok pagi saya tinggal buang. Waktu saya lanjutkan seser, buang lagi. Kalau seser besok pagi, saya kalah poin,” jelasnya.
Penutupan TPST ternyata juga berimbas, pada jumlah pengangkutan. Sodik baru mampu mengambil sampah di tiga dusun. Padahal dia memiliki pelanggan sekitar 5-6 dusun. “Saya mengambil Senin dan Kamis di Jambidan, Selasa sama Sabtu di Pleret, Rabu ke pabrik shampoo. Satu hari ini aku mengangkat dua rit. Besok 3-4 rit. Mulai antre jam 05.30, karena jam 06.00 buka,” sebutnya. (fat/pra)
Editor : Editor Content