Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Telur Naik, Permintaan Tak Turun

Editor Content • Senin, 14 Desember 2020 | 15:36 WIB
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
RADAR JOGJA - Menjelang Natal dan Tahun Baru, bahan pokok mengalami kenaikan. Salah satunya adalah telur. Harganya mencapai Rp 26.500 per kg. Namun, permintaan tidak surut. Terdongkrak hajatan yang mulai kembali dilakukan oleh masyarakat.

Kenaikan harga telur diungkap oleh salah satu pedagang di Pasar Pleret, Poniyem. Perempuan 46 tahun ini mengatakan, kenaikan harga telur dimulai sejak awal bulan. Sebelumnya, harga telur masih berkisar Rp 23.400 per kilogram (kg) di November. Sekarang dia menjual telur Rp 26.500 per kilo gram. “Saya ambilnya sudah Rp 25.300 per kg,” ucapnya ditemui di kedainya Minggu (13/12).

Namun, kendati begitu, Poniyem mengaku tidak kekurangan pembeli. Sebab pelanggannya rata-rata pemilik warung. “Tapi satu dua ada yang pembeli perorangan. Menurutku ini stabil, karena sudah dua hari Rp 25.300,” ujarnya.

Senada pemilik warung kulakan di Wirokerten, Banguntapan, Bantul Rina Dwi Astuti meyebut kenaikan harga telur tidak menyurutkan peminat. Sebab dia mendapat pesanan untuk hajatan, selain itu dia juga mendapat pesanan untuk Program Keluarga Harapan (PKH). “Jadi rodo payu (agak laku). Jadi pembelian stabil, kalau konsumsi ungkin menurun,” sebutnya.

Menurut Rina, harga telur akan terus naik. Sebab permintaan makin tinggi. Dikatakan, pada 4 Desember, dia menjual telur Rp 25.100 per kg. Naik, pada 11 Desember menjadi Rp 26.000 per kg. "Hari ini aku jual telur Rp 26.100. Hari ini aku belum dapat kiriman telur. Kayak-nya naik lagi," kata dia.

Terpisah, padagang cilor di Wirokerten, Banguntapan, Bantul Aik mengaku mengurangi jumlah telur dalam produksinya. Biasanya perempuan 29 tahun menggunakan dua buah telur untuk sekali masak, kini dia menambahkan air dalam adonannya. “Jadi yang tadinya kental, jadi agak cuer (encer),” ungkapnya.

Selain itu, Aik juga membeli telur retak yang tak lolos sortir. Guna menekan biaya produksinya. “Tetanggaku ada yang pengurus PKH, jadi telur yang retak dijual. Lumayan Rp 2 ribu dapat tiga. Soalnya kalau di Supermarket nggak bisa beli yang retak,” ujarnya.

Kepala Dinas Perdagangan (Dinper) Bantul Sukrisna Dwi Susanta mengatakan, kebutuhan bahan pokok di Bantul aman. Sampai pada akhir tahun menjelang Nataru. Kenaikan telur disebutnya sekitar seribu rupiah. “November sekitar Rp 23.800. Sekarang sekitar Rp 24.300,” ujarnya.

Selain telur, cabai juga mengalami kenaikan. Cabe merah dari Rp 28 ribu menjadi Rp 37 ribu. Cabe rawit dari Rp 33 ribu menjadi Rp 39 ribu. Namun harga bawang terpantau turun. Bawang merah dari Rp 34 ribu menjadi Rp 31 ribu. Bawang putih dari Rp 23 ribu menjadi Rp 22 ribu. Sementara beberapa kebutuhan pokok stabil. Seperti beras Rp sembilan ribu sampai Rp 12 ribu. Gula pasir tetap Rp 12 ribu. Minyak goreng tetap Rp 13 ribu. Daging sapi Rp 122 ribu. Dan daging ayam boiler Rp 33 ribu. (fat/pra) Editor : Editor Content
#Bantul #pasar pleret