Dikatakan, pengembangan kawasan mangrove memanfaatkan sokongan berbagai pihak. Mulai pemerintah hingga kalangan swasta. Berkat kepedulian banyak pihak, kawasan di muara Sungai Opak itupun berubah drastis. Lahan yang dulunya tandus dan penuh tumpukan sampah itu sekarang menghijau.
Bahkan, bermetaforfosa menjadi kawasan eduwisata. Tak sedikit pelajar dan mahasiswa yang berkunjung ke tempat itu untuk berwisata sekaligus belajar.
"Ada beberapa paket wisata yang kami tawarkan," ujarnya.
Bagi Dwi, menanam mangrove bukan perkara gampang. Mangrove yang baru tertanam rentan mati bila terkena ombak atau angin laut secara langsung. Juga, karena banyaknya sampah. Karena itu, pengelola memasang jaring di sekitar pusat tanaman. Itu untuk mencegah masuknya sampah yang berasal dari sungai maupun laut.
"Kepedulian warga sekitar juga semakin tinggi," tambahnya.
Bupati Bantul Suharsono apresiatif dengan pengembangan kawasan hutan mangrove sebagai objek wisata minat khusus. "Potensinya cukup besar," katanya.
Melihat potensinya, Suharsono berjanji bakal terus mendukung penuh pengembangan kawasan mangrove. Baik melalui pendanaan APBD maupun swasta. "Apalagi, ini kawasan satu kesatuan dengan Pengklik, Pantai Samas. Multieffect-nya banyak," tutur orang nomor satu di Bumi Projotamansari. (zam/yog/mar) Editor : Editor News