RADAR JOGJA – Ada yang berbeda di Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman. Persisnya di RW 045 Dusun Kayen. Di tengah pandemi Covid-19, sekelompok warga setempat justru punya kesibukan baru.

Ya, sekelompok warga RW 045 yang seluruhnya ibu rumah tangga itu belakangan aktif dengan dunia tanam-menanam. Dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang masih tersisa.

“Konsepnya hidroponik. Dengan memanfaatkan lahan sempit. Ini salah satu bentuk program ketahanan pangan di tengah kawasan padat penduduk,” jelas M Rizky Setiyawan belum lama ini.

Ide mengembangkan budidaya menanam ala pertanian modern itu tak lahir begitu saja. Gagasan itu diinisiasi Tim KKN UIN Sunan Kalijaga. Tepatnya Kelompok 178 Angkatan 102.

Lalu siapa Kelompok 178 itu? Mereka merupakan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Santri Alumni Keluarga Tebuireng (Himasakti), Jombang. Di antara mereka ada yang pendatang. Ada pula yang merupakan warga Jogjakarta.

Nah, Rizky, sapaan M Rizky Setiyawan merupakan ketua Kelompok 178. Rizky bersama beberapa rekannya sejak 20 Juli hingga 4 September terjun di RW 045. Untuk menjalankan tugas perkuliahan berupa pengabdian masyarakat.

“Sembari memperkenalkan Pesantren Tebuireng kepada masyarakat. Khususnya warga Kayen,” ucapnya.

Karena itu, kelompok ini tak lupa menyematkan mengaji dan bimbingan belajar sebagai program kerja. Sasarannya anak-anak di RW 045.

Budidaya hidroponik, kata Rizky, di antaranya untuk pemberdayaan masyarakat. Hasil panen dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan sayur warga. Terutama di tengah masa pandemi. Dari itu, program ini turut mendukung beberapa program pemerintah. Sebut saja program ketahanan pangan.

“Dari kesehatan mendukung Gerakan Masyarakat Sehat. Lalu, sektor lingkungan menyokong upaya penghijauan,” katanya.

Ketua RW 045 Sukirman mengapresiasi program kerja Kelompok 178 di wilayahnya. Lantaran ikut mendorong pemanfaatan lahan pekarangan.”Mereka juga ngaji dan memberikan bimbingan belajar,” pujinya.

Tidak semua anggota Kelompok 178 terjun ke lapangan. Dua di antaranya mengikuti secara daring. Kendati begitu, santri alumni Tebuireng ini tetap kompak. Mereka menjadikan KKN sebagai ajang aktualisasi diri.

“Untuk mempraktikkan ilmu dari pesantren dan bangku kuliah di tengah masyarakat,” ujar Dosen Pembimbing Lapangan A. Zuhri. (*/zam/ila)