RADAR JOGJA – Tes swab masal untuk pimpinan dan anggota DPRD DIJ terbukti efektif menemukan kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Hasilnya dari 32 anggota DPRD DIJ yang dites swab, empat di antaranya dinyatakan positif Covid-19. Kantor DPRD DIJ pun harus ditutup sementara selama tiga hari untuk sterilisasi.

Wakil Ketua DPRD DIJ Huda Tri Yudiana mengatakan, kegiatan skrining masal adalah inisiatif DPRD DIJ. Semua unsur pimpinan dan anggota diminta mengikuti tes swab masal. Tujuannya untuk mendorong gugus tugas agar lebih menggelar tes masal secara intensif dan masif.

“Kami berinisiatif sendiri atas keputusan rapat pimpinan untuk melakukan uji swab untuk seluruh anggota DPRD DIJ agar kami bisa lebih mendorong gugus tugas untuk melakukan uji swab maupun rapid test di masyarakat dalam rangka mendeteksi dan memetekan virus,” jelasnya dalam telekonfrens Rabu (16/9)

Terkait kondisi legislator yang positif, Huda yang kemarin didampingi Wakil Ketua DPRD DIJ lainnya Suharwanta, menyebut dalam kondisi baik. Seluruhnya juga tak menunjukkan gejala sakit sehingga berstatus orang tanpa gejala (OTG). Mereka sudah menjalani isolasi mandiri sesuai prosedur.

Huda menjelaskan, hasil itu didapat setelah DPRD DIJ menggelar tes masal bagi seluruh pegawai dan anggota di kantor DPRD DIJ. Dari 55 anggota, 32 telah menjalani tes swab pada Sabtu (12/9) lalu di Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan DIJ. Sisanya sebanyak 23 anggota menjalani tes swab di RS Hardjolukito Rabu (16/9). “Hasilnya ditemukan empat orang dari kami yang positif. Yang belum melakukan tes swab, hari ini dilakukan tes swab,” ungkapnya.

Namun Huda enggan membeberkan nama empat orang anggota dewan yang terjangkit virus korona itu. Tapi mereka berasal dari beberapa fraksi berbeda. Karena ada regulasi yang melarang mempublikasikan nama atau identitas warga yang terpapar Covid-19. “Kecuali atas inisiatif pasiennya sendiri,” katanya.

Selanjutnya, digelar skrining yang juga menyasar semua pegawai di kantor DPRD DIJ. Seluruhnya juga menjalani rapid test secara bertahap. Dia menambahkan, tiga pegawai sekretariat DPRD DIJ sempat menunjukkan hasil reaktif saat menjalani tes cepat. Namun setelah di-swab, hasilnya negatif. “Sekwan nantinya juga rekan-rekan wartawan kami mohon melakukan rapid test di RS Hardjolukito,” tambahnya.

Politikus PKS itu menegaskan, kasus positif Covid-19 bukanlah sebuah aib atau kesalahan. Sebab hal ini bisa menimpa siapa saja. “Justru kami mengapresiasi rekan anggota yang bersedia di-swab. Sehingga bisa diketahui siapa yang terjangkit,” tandasnya.

Karena ada penemuan kasus positif, pimpinan dewan memutuskan untuk menutup sementara gedung DPRD DIJ. Kegiatan audensi hingga kunjungan kerja pun ikut ditiadakan. “Namun rapat yang harus diselenggarakan di DPRD tetap digelar secara daring. Misalnya rapat pembahasan perubahan APBD maupun pansus. Karena kami tidak bisa meninggalkan pekerjaan itu,” tandasnya.

Bagaimana dengan Gubernur DIJ HB X serta pejabat Pemprov DIJ lainnya, yang Selasa lalu (15/9) sempat mengikuti rapat paripurna di DPRD DIJ? Huda menjawab, “Untuk Ngarsa Dalem (HB X) bukan wewenang kami, itu gugus tugas.”

Ketua Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan DPRD DIJ terkait hasil tes masal. Sebab, eksekutif dan legislatif kerap melakukan rapat kerja di dewan beberapa waktu ini.

Sebagai antisipasi, gugus tugas juga telah menggelar rapid test masal yang menyasar kalangan aparatur sipil negara (ASN) maupun non ASN di seluruh DIJ. “Kami antisipasi walaupun ada atau tidak ada (kasus positif) di situ. Kami akan dibantu dewan siapa saja yang positif dan siapa saja yang berinteraksi dengan mereka yang positif (di dewan),” jelasnya.

Tak hanya politisi, virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok itu juga masih menyerang tenaga kesehatan. Sejak awal pandemi Covid-19, sebanyak 31 karyawan RSUD Sleman terpapar Covid-19. “Sampai kemarin sudah ada 12 orang yang sembuh,” kata Direktur RSUD Sleman Cahaya Purnama saat dikonfirmasi, kemarin (16/9).

Untuk menghindari penumpukan pasien, pihaknya juga telah menambah kapasitas tempat tidur untuk bangsal Covid-19. Semula ada 23 tempat tidur, kini menjadi 33 tempat tidur. “Untuk karyawan kami yang terpapar, dirawat di dua bangsal Covid-19. Yakni, bangsal Cendana dan Nusa Indah,” sebutnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengatakan, karyawan kesehatan sangat rentan terpapar Covid-19. Sebagian besar yang terpapar itu adalah karyawan yang ada di poli dan IGD. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Di antaranya, ketidaktahuan status pasien karena terkadang ada pasien. Selain itu, juga adanya kelonggaran aktivitas di beberapa sektor.

Karyawan kesehatan terkadang tidak mengetahui secara pasti status pasien. Apakah pasien itu bebas Covid-19 atau tidak.” Terkadang ada pasien yang datang, tetapi mereka tidak tahu bahwa pasien itu positif, dan sebagainya,” ungkap Joko.

Di samping itu, karyawan kesehatan juga tidak hanya terfokus pada kewajibannya untuk bekerja di RS. para karyawan kesehatan juga memiliki kegiatan sosial di masyarakat.  “Karyawan kesehatan kan kalau libur juga melakukan aktivitas bermasyarakat. Dapat dilihat saat ini kelonggaran aktivitas masyarakat berangsur terlihat jelas,” katanya. (cr1/tor/pra)