RADAR JOGJA – Solusi untuk TPST Piyungan belum juga menemukan jalan keluarnya. Dampaknya, untuk kesekian kalinya tempat penampungan sampah dari Kota Jogja, Sleman dan Bantul itu kembali ditutup. Kali ini oleh warga.

Sepuluh orang berjaga sebagai pagar dan menghalang akses jalan menuju dermaga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, Selasa (15/9). Mereka melarang armada angkutan sampah melakukan bongkar muat. Beberapa sopir truk memilih putar balik. Tapi, banyak pula yang masih bertahan.

Sopir armada yang masih bertahan membuat antrean mengular. Panjang antrean mencapai 1,5 kilometer. Salah seorang sopir armada itu adalah Dani Kencana. Sopir yang mengangkut sampah dari Sleman ini sudah mengantre sejak pukul 08.30. Ia memilih tidak putar balik dan menunggu untuk bisa bongkar muat.

“Belum bisa buang, masih menunggu hasil mediasi warga dengan pengelola,” keluh Dani. Namun bila mediasi gagal, Dani akan membawa armadanya kembali ke depo. “Saya nggak mengabari teman lain, biar rame-rame numpuk di sini,” ujarnya lantas tertawa.

PANAS: Warga menghadang armada yang akan bongkar sampah di dermaga TPST Piyungan, Bantul, (15/9).( SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )

Pemblokiran TPST Piyungan ini adalah wujud protes warga RT 06 Nglengkong, Bawuran, Pleret, Bantul, yang merasa pengelola TPST Piyungan tidak serius menangani dampak pencemaran lingkungan. “Jadi kami tutup sejak pukul 08.00 tadi (kemarin, Red),” sebut juru bicara warga sekitar TPST Piyungan Mariyono, saat ditemui di Kantor Balai TPST Piyungan, Ngablak, Sitimulyo, Piyungan.

Akibat penanganan yang tidak serius, sekitar 80 kepala keluarga (KK) terdampak. Sumurnya tercemar oleh rembesan air lindi. Aliran lindi itu bertambah deras setelah adanya aktivitas penataan landfill dan pembangunan konstruksi saluran.

“Kami sudah memberitahu sejak dulu, tapi tidak ditanggapi. Sekarang malah tambah parah,” sesalnya. Untuk itu warga meminta agar rembesan air lindi berhenti. “Kalau pengelola tidak memberikan solusi, kami akan tetap menutup,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Balai Pengolahan Sampah TPST Piyungan Fauzan Umar mengatakan, petugas sudah bersiap melakukan proses pengeringan lokasi tempat berkumpulnya lindi. Agar air lindi yang merembes ke permukiman warga tidak bertambah banyak. “Saya sudah sampaikan ke Dinas PUPESDM DIJ sebagai pelaksana untuk melakukan pengeringan saat pengerjaan, tapi tampaknya tidak dilaksanakan,” kilahnya.

Diduga bagian bawah lokasi rembesan lindi terdapat bekas saluran, sehingga membuat air lindi berkumpul di lokasi itu dan merembes. Ditambah daya serap tanah pada lokasi tersebut juga buruk. (cr2/laz)