RADAR JOGJA – Satgas Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Kota Jogja masih melacak satu kasus sebaran di kawasan Malioboro. Hasil wawancara, pasien mengaku sebagai pedagang kawasan tersebut. Hanya, tak diketahui secara pasti detil zona lokasi berjualan.

Upaya pelacakan turut melibatkan paguyuban pedagang Malioboro. Bermodalkan nama untuk selanjutnya ditelusuri secara mendalam. Baik jenis dagangan dan lokasi berjualan secara pasti.

“Masih belum ketemu, ini teman komunitas (Malioboro) masih mencari zona di mana. Sejak pagi sudah dilacak di mana jualannya, apakah mobile (mobilitas) atau lapak kami juga belum tahu,” jelas Ketua Satgas Covid-19 Kota Jogja Heroe Poerwadi ditemui di Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Rabu (16/9).

Pelacakan ini sendiri bertujuan meminimalkan persebaran kasus. Termasuk tindakan sterilisasi lokasi berjualan. Adapula pelacakan kontak erat terhadap pasien kasus.

Berdasarkan data, pasien ini berjenis kelamin laki-laki dan berusia 47 tahun. Dilaporkan oleh Satgas Covid-19 Pemprov DIJ, Senin (14/9). Saat wawancara, pasien mengaku sebagai pedagang di kawasan Malioboro.

“Minta tolong lacak agar (lapak) bisa disterilkan. Sempat ada nama mirip, ternyata cewek. Tracing juga untuk memastikan adakah kaitan dengan kasus Malioboro yang awal,” katanya.

Terkait temuan ini, Heroe tak ingin gegabah. Termasuk kebijakan untuk menutup kawasan Malioboro. Menurutnya perlu ada kajian berdasarkan data lapangan.

Wakil Wali Kota Jogja ini juga memerintahkan adanya pemetaan kasus. Berupa uji swab PCR dengan teknik sampel. Menyasar para pedagang di kawasan Malioboro. “Kebijakan menutup Malioboro tidak bisa tanpa ada data yang cukup. Sehingga masih dicari selain swab kontak juga swab sample dari (Malioboro sisi) utara sampai selatan. Nanti oleh Puskesmas,” ujarnya.

Pasien ini tengah menjalani rawat inap di rumah sakit rujukan. Tindakan ini diambil karena munculnya gejala pada pasien. Sehingga tidak boleh melakukan isolasi mandiri. “Kondisi kesehatan menjalani rawat inap. Memang bergejala tapi kami tidak tahu gejalanya. Ini karena penanganan langsung oleh provinsi (Satgas Covid-19 Pemprov DIJ),” katanya. (dwi/ila)