RADAR JOGJA – Kenaikan retribusi pasar mendapat sorotan dari DPRD Gunungkidul. Hal tersebut disampaikan saat para legislator kabupaten berjuluk Handayani ini menggelar rapat paripurna rekomendasi hasil pengawasan terhadap APBD 2020 triwulan ketiga Selasa (15/9).

Para wakil rakyat memberikan penekanan terhadap Perda Retribusi Pelayanan Pasar dari Pemprov DIJ. Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, pengelolaan Pasar Argosari Wonosari belum optimal. Termasuk dalam hal keamanan pasar, kontrol dan pendapatan. ”Kemudian adanya gejolak pedagang atas kenaikan retribusi pasar,” kata Endah Subekti Kuntariningsih.

Oleh sebab itu pihaknya meminta eksekutif melakukan sejumlah langkah. Pertama, pembenahan organisasi, peningkatan kualitas dan evaluasi SDM pengelola pasar, dan lakukan pemasangan closed-circuit television (CCTV) di pasar Argosari.

Lalu evaluasi pencapaian target retribusi pasar Argosari sesuai potensi. Kemudian terkait dengan keluhan pedagang, eksekutif diminta agar melakukan sosialisasi intensif mengenai kenaikan retribusi tersebut. ”Pajak dihapuskan tapi ada retribusi dinaikkan, sehingga kami keberatan,” ujarnya.

Menurut dia, dengan adanya masyarakat miskin  baru dan pengangguran bertambah, aktivitas terbatas di tengah pandemi covid akan sangat sulit untuk menambah pendapatan dengan menaikkan retribusi.

”Sedangkan mereka (pedagang) tidak maksimal melakukan usaha pedagangan di pasar,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gunungkidul, Johan Eko Sudarto mengaku belum menerima informasi mengenai rekomendasi dewan. ”Kami menunggu hasil tersebut terlebih dahulu (rekomendasi hasil pengawasan terhadap APBD 2020 triwulan ke III),” kata Johan. Mantan Panewu Ponjong ini menyampaikan, kebijakan menaikan tarif retribusi pasar melalui proses panjang. Idealnya, kenaikan setiap tiga tahun sekali namun sejak 2011 belum dilakukan penyesuaian. ”Karena rekomendasi Perda tentang Retribusi Pelayanan Pasar turun dari Pemprov DIJ Agustus, kami  harus langsung melaksanakan mulai awal bulan ini,” ungkapnya.

Untuk diketahui, penyesuaian tarif ada beberapa kategori, mulai dari kios, los hingga plataran pasar. Kios, sebelum kenaikan dipatok Rp 250  menjadi Rp 500 per meter persegi. Sedangkan untuk los dari awalnya Rp 200 menjadi Rp 400 per meter persegi dan untuk lokasi plataran dari Rp 150 menjadi Rp 300 per meter persegi. Besaran retribusi disesuaikan dengan lokasi dan luasan yang ditempati.

Perubahan juga berlaku pada retribusi hewan ternak. Sapi dipatok tariff Rp 4.000 per ekor, kambing Rp 700 dan unggas Rp 200 per ekor dan berlaku setiap hari. Dijelaskan, retribusi ini akan kembali ke pedagang dalam bentu peningkatan fasilitas yang ada di pasar, mulai adanya perbaikan kerusakan maupun proses revitalisasi. (gun/bah)