RADAR JOGJA – Kabupaten Sleman mengalami penambahan 10 kasus terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Dari total tersebut dua di antaranya ibu hamil. Tepatnya tercatat sebagai kasus 1907, perempuan berusia 19 tahun dan kasus 1908, perempuan berusia 32 tahun.

Berdasarkan catatan Dinkes Sleman, sebelumnya ada lima kasus ibu. Bahkan kelimanya melahirkan dengan status masih terkonfirmasi positif Covid-19.

 “Di Sleman sejauh ini ada 5 bumil (ibu hamil) yang melahirkan dengan konfirmasi covid. Alhamdulillah semua persalinan normal dan sehat,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu malam (16/9).

Upaya persalinan kelima ibu hamil, lanjutnya, tak menemui kendala dan tetap mengikuti standar medis persalinan yang sesuai protokol Covid-19.

Perhatian khusus justru tertuju kepada tenaga medis persalinan. Syarat utama adalah mengenakan alat pelindung diri (APD) level tertentu. Tentunya ini berdampak pada mobilitas saat membantu persalinan.

“Perhatian justru ke penolongnya, harus ekstra ketat APD-nya. Lalu ruang persalinan harus tekanan negatif, supaya tidak tertular pasien,” katanya.

Dari total persalinan ini ada satu kasus bayi tertular dari ibunya. Namun kondisi mereka kini telah sembuh dari Covid-19.

Mantan Direktur Utama RSUD Sleman ini turut meluruskan info yang beredar di masyarakat bahwa penularan Covid-19 bisa melalui air susu ibu (ASI). Menurut hipotesa ini belum dibuktikan dan terbukti dalam kajian medis.

“Hanya satu yang terindikasi penularan ibu ke bayi, lainnya tidak. Kalau tentang penularan lewat ASI belum ada evidence-nya (bukti),” ujarnya.

Joko meminta para suami atau keluarga menaruh perhatian lebih. Setiap ibu hamil diwajibkan menjalani rangkaian pemeriksaan medis Covid-19 sebelum melahirkan. Batas waktunya adalah 14 hari sebelum mendekati hari perkiraan lahir (HPL). 

Apabila didapati hasil reaktif maka lanjut uji swab PCR. Jika hasil dari uji swab positif Covid-19 maka wajib menjalani isolasi. Proses persalinan tetap dilayani tentu dengan protokol Covid-19.

“Bila hasil swab positif harus dirawat isolasi di rumah sakit yang ditentukan. Tidak boleh isolasi mandiri maupun di shelter. Rumah sakit yang ditunjuk memiliki kapasitas penanganan ibu hamil dengan protokol Covid-19,” katanya. (dwi/tif)