RADAR JOGJA –  Apa yang didapat Kulonprogo dengan hadirnya Yogyakarta International Airport (YIA) di Temon? Permasalahan ini menjadi tantangan berat bagi pemerintah kabupaten (pemkab) dan warga Kulonprogo.

Tanpa bisa menangkap dan mengolah potensi yang ada, maka bukan lagi menjadi isapan jempol jika warga kulonprogo murni hanya menjadi penonton. Pernyataan itu ditegaskan Wakil Bupati Kulonprogo Fajar Gegana Selasa (15/9).

EKSPLOR: Dinas Parwisata DIJ menggelar pelatihan kuliner desa mandiri budaya Pagerharjo, di Pendapa Kelurahan Pagerharjo,  Samigaluh, Kulonprogo. Bupati Kulonprogo Sutedjo membuka acara ini.(HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA )

Fajar menegaskan, secara langsung Kulonprogo belum terdampak secara ekonomi dengan potensi yang ada. Sebab, di bidang tenaga kerja YIA benar merupakan bandara baru, namun posisinya hanya pindahan dari Bandara Adisutjipto di Sleman. Sehingga jika Kulonprogo terlalu berharap untuk sektor tenaga kerja, kemungkinnnaya juga tipis. Cara berpikirnya harus secepatnya diubah, yakni bagaimana menggali potensi dengan keberadaan bandara, baik dari sisi kuliner atau pariwisatanya.

“Belum lagi tenaga kerja yang didatangkan langsung dari 11 bandara lain di bawah naungan PT Angkasa Pura I. Maka cara berpikirnya harus diubah, jangan bergantung dengan YIA untuk posisi tenaga kerja. Potensi daerah harus digarap optimal, demikian sektor UMKM dan pariwisata,” tegasnya.

Menurutnya, Temon yang tumbuh menjadi kota baru atau dalam istilah bandara aero city harus dimaknai sebagai peluang sekaligus tantangan bagi warga Kulonprogo. Sebab, jika tidak mampu mengambil peluang itu, maka pengusaha luar yang akan menangkapnya.

“Optimalisasi potensi mulai dari Temon Aero City dan juga wilayah yang dilalui jalur bedah menoreh menuju Candi Borbudur harus digarap optimal. Tidak kecuali daerah lain di Kulonprogo di wilayah tengah dan selatan,” ujarnya.

Kecamasan itu juga menghantui Pemprov DIJ yang khawatir jika YIA hanya sebagai tempat membuang kardus makan, atau tempat turun sementara bagi wisatawan melanjutkan perjalanan wisata ke luar wilayah DIJ. Setidaknya hal itu terkuak dalam Pelatihan Kuliner Desa Mandiri Budaya Pagerharjo di Pendapa Kelurahan Pagerharjo,  Kapanewon Samigaluh, Selasa (15/9).

Kepala Bidang Pengembangan Kapasititas Dinas Pariwisdata DIJ Wardoyo menyatakan, pihaknya menggelar ragam pembinaan, pelatihan dan pendampingi agar warga benar-benar mampu dan kuat menghadapi tantangan dan mengolah potensi agar tidak kalah bersaing luar daerah. “Pelatihan kuliner ini salah satunya. Ketika potensi kuliner Pagerharjo terangkat menjadi aset sekaligus identitas, maka kemandirian bisa dibangun,” ucapnya.

Posisi Pagerharjo di Samigaluh sangat strategis. Pagerharjo diorientasikan sebagai daerah penyangga yang memperkuat Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur. Pagerharjo digadang bisa menjadi wilayah filterisasi wisata, sehingga wisawatan yang tiba di YIA tidak langsung meninggalkan Kulonprogo atau DIJ. “Keberadaan daerah penyangga seperti Pagerharjo ini penting untuk menahan wisatawan untuk tinggal lebih lama di Jogjakarta,” jelasnya.

Konsultan Pariwisata dan Praktisi Desa Wisata Mahatva Yoga Adi Pradana menambahkan, berbicara konsep sadar wisata yang berisi nilai-nilai sapta pesona di dalamnya, Pagerharjo layak menjadi desa mandiri budaya. Syaratnya, masyarakatnya harus sepakat dan sepaket untuk maju bersama.

“Setelah dikenalkan konsep sadar wisata dengan nilai sapta pesona, masyarakat seharusnya mulai isa tanggap, bagaimana berhadapan dan melayani wisatawan. Khususnya wisatawan luar daerah atau luar negeri dengan nilai lokailtasnya,” katanya.

Menurutnya, konsep sadar wisata dengan nilai lokalitas memiliki banyak keuntungan, sebab tidak perlu dibuat-buat. “Konsep ini sudah terbukti sangat mudah, murah dan cepat untuk pengembangan wisata. Ketika masyarakat paham dan responsip terhadap wisatawan, makan akan mudah untuk melakukan apapun yang berbau pariwisata itu sendiri,” ujarnya.

Salah seorang peserta pelatihan, Heni Suryani Sri Rejeki mengungkapkan, bagaimana menggali potensi dan disesuaikan dengan kebutuhan wisawatan menjadi point penting dalam pelatihan yang diikuti.

“Tadi diberi materi cara melayani wisatawan dan dilanjutkan dengan praktik langsung mengolah dan menyajikan makanan yang baik sesuai standar. Semoga pelatihan ini bisa berkesinambungan, berlanjut dan banyak lagi potensi kuliner yang lahir dari Pagerharjo,” ungkapnya. (tom/laz)