RADAR JOGJA – Masih ditemukan pelanggaran protokol Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) oleh pengunjung kawasan Malioboro. Berdasarkan data Satpol PP Kota Jogja setidaknya ada 50 hingga 100 pelanggaran setiap harinya. Mayoritas adalah pelanggaran penggunaan masker.

Kepala Satpol PP Kota Jogja Agus Winarto mengaku tak mudah mengatur pengunjung Malioboro. Luasnya kawasan Malioboro memudahkan pengunjung kucing-kucingan dengan petugas. Begitu mendekati pos atau saat patroli jaga, pengunjung langsung mengenakan masker.

“Wisatawan tetap masih ada yang abai terutama penggunaan masker. Baik itu tidak pakai atau tidak benar memakainya. Ada 50 sampai 100 pelanggaaran setiap harinya,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (16/9).

Jumlah ini bisa meningkat saat masa akhir pekan. Terbukti dengan tingginya angka pelanggaran yang terjaring pada akhir pekan lalu. Setidaknya ada 176 pelanggaran yang ditemukan di kawasan Tugu Pal Putih hingga titik nol kilometer.

“Ini bukan kepentingan pemerintah tapi bersama, jadi jangan abai. Minggu lalu saat akhir pekan itu bisa sampai 176 pelanggaran. Ini kan sangat disayangkan,” katanya.

Satgas Covid-19 Kota Jogja melalui Satpol PP akan melaksanakan operasi pro yustisi. Berupa penegakan sanksi bagi pelanggaran protokol Covid-19. Pendekatan yang digunakan tak lagi preventif dan preemtif tapi represif.
Fokus dari operasi berada di tiga titik. Tepatnya dari kawasan simpang empat Tugu Pal Putih, Malioboro, Titik Nol Kilometer hingga Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Operasi ini akan melibatkan personel Polri dan TNI.

“Operasi yustisi akan dimulai Sabtu besok (19/9) di kawasan Tugu sampai Kraton. Tak menutup kemungkinan juga di tempat lain,” ujarnya.

Dasar dari operasi ini adalah Peraturan Wali Kota Jogja Nomor 51 Tahun 2020. D idalamnya tertuang poin-poin regulasi Protokol Covid-19. Termasuk sanksi yang diberikan kepada para pelanggar.

“Sanksi denda lihat dulu, baru uji coba besok Sabtu (16/9). Kalau ancaman memang sampai denda. Ada hukuman sanksi sosial walau sebenarnya juga tidak ngaruh,” katanya. (dwi/tif)