RADAR JOGJA – Tahapan konsultasi publik pembangunan proyek tol Jogja-Bawen di Desa Tambakrejo dan Sumberejo, Kecamatan Tempel, sudah dilaksanakan Selasa (15/9). Sebanyak 45 persen bidang milik warga terdampak ternyata masih berstatus Letter C.

Kepala Kundho Niti Mandala Sarta Tata Sasana (Dinas Pertanahan dan Tata Ruang) DIJ Krido Suprayitno menjelaskan, warga yang memiliki tanah tak perlu mengubah status tanah dari Letter C, Hak Guna Bangunan (HGB) menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM). Nantinya, bersama desa akan melakukan kroscek Letter C dengan dokumen pendukung yang dimiliki desa berupa buku legar.

“Di buku legar desa terdata status tanah, termasuk adanya turun waris,” jelas Krido. Menurutnya, ada 10 persen bidang tanah yang turun waris. Namun hingga saat ini tidak ditemukan adanya transaksi pembelian tanah di bawah tangan. Diketahui, seluruh bidang tanah telah memiliki kuasa milik.

Tercatat ada 88 bidang tanah seluas sekitar 55.093 meter persegi di Desa Tambakrejo dan 12 bidang tanah di Sumberejo seluas 4.858 meter persegi. Ditargetkan dalam dua pekan ke depan tahapan konsultasi publik selesai dan menghasilkan sedikitnya tiga desa.

Adanya konsultasi publik menghasilkan kerelaan dari warga pemilik tanah. Selain itu, adanya penandatanganan dokumen kerelaan, atau berita acara dari pemilik sah atau diberi kuasa tentang kerelaan pemanfaatan tanah. Serta, pemberkasan termasuk salinan dokumen yang dibutuhkan untuk menentukan Izin Penetapan Lokasi (IPL).

“Sejumlah berkas yang dibutuhkan untuk pemberkasan, antara lain, salinan KTP, salinan KK, salinan dokumen tanah. Lama atau cepatnya konsultasi publik akan berpengaruh pada IPL,” kata Krido.

Menurut Krido, keaktifan pemilik tanah dalam tahapan ini sangat diperlukan. Pihaknya juga telah mengundang pemilik tanah atau yang diberi kuasa atas pengelolaan bidang tanah bersangkutan, sehingga tidak ada kesalahan.

Sementara itu, salah seorang warga Padukuhan Jalakan, Tambakrejo, Tukiyem mengaku tidak pernah mengikuti sosialisasi awal perencanaan tol. Namun tiba-tiba ia menerima undangan terkait konsultasi publik. Ia memiliki sawah dengan SHM seluas 504 meter persegi. Hanya saja belum tahu berapa luasan tanah yang terkena dampak pembangunan tol.

“Sawah ada di pinggir jalan, harapannya kena semua,” kata Tukiyem. Karena untuk kepentingan umum, ia dengan berbesar hati harus ikut dengan ketentuan pemerintah. Hanya saja, ia khawatir untuk mencari pengganti sawah yang tidak mudah. (eno/laz)