RADAR JOGJA – Masa sela sebelum memasuki tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) rawan tindakan provokatif. Serangan politik terhadap salah satu bakal calon (balon) kerap terjadi di masa sela.

“Kami berharap masa sela ini tidak digunakan untuk melakukan sesuatu yang mengarah pada ketidakkondusifan,” tegas Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bantul Harlina dihubungi Radar Jogja Senin (14/9).

Pada masa sela, Bawaslu belum bisa melakukan pengawasan terhadap bakal calon (balon). Berikut pengawasan terhadap partai politik yang mengusung balon. Karena belum masuk masa tahapan Pilkada. “Waktu sela ini sebaiknya dapat dimaknai secara dewasa,” pintanya.

Sikap yang tidak dewasa dari balon dan partai pengusungnya, dapat merusak kepercayaan masyarakat. Potensi kerawanan lain yang dapat muncul adalah memberi janji dan imbalan. Namun, tidak semua temuan akan diproses penindakan oleh Bawaslu. “Pengawasan hanya dapat dilakukan sesuai tahapan. Tapi, Bawaslu dapat meneruskan (temuan, Red) ke lembaga atau instansi yang berwenang,” ujarnya.

Guna mencegah hal itu meluas, Bawaslu mengagendakan pertemuan bersama semua partai pengusung Pilkada Bantul. Berikut liaison officer (LO) masing-masing koalisi.”Kami akan sosialisasikan terkait masa sela,” sebutnya.

Sebelumnya, Ketua Tim Pemenangan Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) Suharsono – Totok Sudarto (Noto) mengungkap adanya pencatutan nama. Seseorang telah menggunakan nama Suharsono, yang diduga olehnya merujuk pada kampanye hitam. “Pencatutan terjadi dua kali,” sebutnya.

Pencatutan pertama dilakukan pada 8 September lalu. Sedangkan pencatutan kedua dilakukan pada 13 September. Kedua kasus ini menggunakan nomor yang sama. Untuk menghubungi dua pimpinan pondok pesantren di Bantul. “Saya dikonfirmasi, mereka menanyakan, apakah benar itu nomor telepon Suharsono. Saya jawab bukan,” ujarnya.

Melalui bantuan putra Suharsono, diperoleh informasi jika nomor itu teregistrasi atas nama seorang perempuan. Berasal dari Pemalang, Jawa Tengah dan berprofesi sebagai petani. “Usianya sudah sepuh, jadi tidak mungkin dia melakukan itu. Saya yakin ini black campaign,” cetusnya. Saat ini Arif masih melakukan konfirmasi untuk melaporkan secara resmi penipuan ini.

Selain itu, Arif mendapat laporan adanya spanduk provokatif yang terpasang di Krapyak Wetan, Panjangrejo, Pundong, Bantul kemarin pagi. “Itu menghasut, memfitnah, dan menimbulkan ketidaknyamanan. Adu domba warga Bantul. Kami minta Satpol PP untuk menurunkan,” tanasanya. (cr2/bah)