RADAR JOGJA – Perajin diuntungkan dengan adanya pandemi korona. Situasi berbeda melanda penyedia jasa wisata edukasi di Kasongan. Sebab sebagian besar jadwal kunjungan dibatalkan. Terutama kunjungan dari luar kota dan kunjungan dalam jumlah yang besar.

Pendiri Lembaga Pelatihan Gerabah Kasongan “Nangsib Keramik” Dicky Bisma Saputra, kali terakhir menerima kunjungan 14 Maret lalu. Pandemi korona memperparah geliat lembaganya. “Sebelumnya kami sudah terdampak pembatalan kunjungan. Setelah adanya peristiwa kecelakaan susur sungai di Sleman, Februari lalu,” ungkap Bisma, sapaan akrabnya, saat ditemui di teras rumahnya, Senin (14/9).

Sampai saat ini, Bisma belum menerima kembali kunjungan dalam rombongan besar. Kendati ada permintaan pun, pemuda 23 tahun ini memilih untuk mengalihkannya ke bulan Oktober. Mengikuti masa tanggap darurat yang ditetapkan oleh Pemprov DIJ. Tapi untuk kunjungan keluarga, Bisma masih memberi layanan.

“Asal jumlahnya kurang dari 30 orang,” syaratnya. Padahal, sebelum adanya pandemi korona, Bisma mampu menerima rombongan sampai 700 orang. Ia mengaku mulai menerima permintaan lagi. Tapi untuk jadwal kunjungan di tahun depan.

Untuk diketahui, Bisma mendirikan lembaga pelatihan ini sebagai upaya mengenalkan gerabah kepada masyarakat luas. Pemuda yang mengidolakan Sandiaga Uno itu juga pernah diganjar penghargaan nasional. Terkait inovasi pendidikan dari lembaga pelatihan yang didirikannya tahun 2017.

Pemuda yang juga hobi wisata kuliner ini pun menyebut, pelatihan gerabah bermanfaat bagi anak-anak. Bagi anak usia PAUD dan TK, pelatihan gerabah melatih motorik halus. Sementara untuk anak usia SD sampai SMA, bermanfaat mengasah kreativitas. “Juga mengolah perasaan, karena kunci membuat gerabah adalah sabar,” tegasnya.

Hal ini dibenarkan Koordinator Bushcraft Adventure Kids Zaeni Mansyur. Membuat gerabah memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak. Bahkan dalam kegiatan bushcraft yang diselenggarakan, ia kerap memasukkan agenda pelatihan membuat gerabah. Karena interaksi dengan tanah liat dapat menjadi refleksi bagi anak. “Atas penciptaan dirinya sebagai manusia,” paparnya.

Selain itu, anak dapat menghargai proses dan manfaat sebuah karya. Anak pun dapat belajar sejarah alat sebelum adanya teknologi masa kini. (cr2/laz)