RADAR JOGJA – Meski sebagai kota kecil di selatan Jawa Tengah, Purworejo memiliki tempat istimewa bagi sebagian orang, termasuk di era penjajahan. Bagaimana tidak, dari kota kabupaten ini Belanda sempat memperhatikan dan menyiapkan tempat pengungsian ratu mereka. Banyak dokumentasi bernilai sejarah yang disimpan oleh masyarakat.

BUDI AGUNG, Purworejo, Radar Jogja

Gang Durian masuk dalam wilayah Kelurahan Sindurjan, Kecamatan/Kabupaten Purworejo. Jika di sekitar Alun-Alun Purworejo, tinggal mengarahkan pandangan atau perjalanan ke sisi barat. Traffic light yang ditemui di sisi barat daya alun-alun, cukup ambil lurus dari arah depan kantor bupati.

Masuk Jalan Kartini, pelan saja dan ambil jalan paving block setelah melewati kompleks SMKN 3 Purworejo. Layaknya permukiman di kota, tempat ini relatif padat dan dipenuhi rumah tinggal penduduk. Gapura kecil menjadi penanda khusus dari gang yang sekitar 200 meter itu terdapat tembok memajang. Nah, di tembok yang sebenarnya polos itu dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat setempat.

Foto-foto dengan ukuran sedang ditempatkan dengan rapi. Sebagai pemanis di dekat foto terdapat tempat lampu yang mirip dengan tempat jangkrik dari bambu. Tidak sampai di situ, ada bambu hitam kecil yang dibuat berhimpitan sehingga menimbulkan suara saat terpapar angin.

Melihat lebih dekat ke sebuah foto, akan terlihat sebentuk foto lama yang mendekati kusam karena dominan hitam-putih. Sebuah foto pahlawan nasional tertempel di tembok paling ujung. Demikian halnya saat pandangan diluaskan, pajangan foto pahlawan dari Purworejo tergantung dengan rapi.

Di sisi kanan, mulai tampak foto-foto lama yang menilik dari sumber yang ada adalah foto kegiatan yang pernah ada di Purworejo. Semua terbingkai rapi dan apik untuk dilihat.

Ya, di sepanjang Gang Durian yang warganya heterogen itu memang dikemas sedemikian rupa sehingga jadi wahana pembelajaran bersama. Belajar untuk mengenal Purworejo tempo doeloe, walaupun hanya sekadar dari foto.

“Sebenarnya sudah kami lakukan ini dari dari tahun lalu (2019, Red). Dan kami menggelar bazar makanan tradisional, tapi karena Covid kita istirahatkan yang bazarnya,” kata Edhi Sutanto, ketua RT 1 RW 6 Sindurjan kepada Radar Jogja Senin (14/9).

Tidak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk menggarap sepanjang tembok yang ada di tempat tersebut. Namun Edhi selaku ketua RT mengaku warga sangat lega dengan ide yang muncul darinya. Ini beralasan, karena menjadikan tempat itu relatif ramai dan didatangi banyak orang.

“Foto yang ada itu juga koleksi beberapa pihak. Kami sudah memintakan ijin dan beliaunya tidak keberatan dipasang ditempat ini,” imbuh Edhi yang kesehariannya sebagai tenaga keamanan di Bank Jateng ini.

Berada dan dekat dengan kawasan Alun-Alun Purworejo, Edhi berharap tempatnya bisa menjadi salah satu titik kunjungan masyarakat yang memiliki kecintaan akan Purworejo. Dia juga menjalin komunikasi dengan sebuah komunitas kota tua di Purworejo yang memiliki paket perjalanan wisata. “Tempat kami dijadikan titik akhir saat ada kunjungan ke tempat-tempat cagar budaya di Purworejo,” katanya.

Kerja sama itu memang menguntungkan pihaknya, karena warga yang memiliki kemampuan membuat makanan tradisional bisa memunculkan. Ada beberapa jenis makanan yang siap disajikan. Tidak hanya di situ, saat ini juga mengembangkan agar ketersediaan makanan bisa setiap saat.

Salah satu yang dilakukan adalah membuka warung sederhana yang dikelola warga. “Kami membuka ruang diskusi di tempat ini. Karena selain foto, juga ada rumah-rumah tua yang memiliki nilai sejarah,” jelas Edhi.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo Agung Pranoto senang adanya penempatan foto di gang tersebut. Dia menilai hal itu akan menambah wawasan bagi masyarakat karena bisa melihat secara fisik foto yang ada. “Sangat berbeda kita melihat di layak komputer atau hanphone. Dengan dipajang, semua akan bisa dinikmati lebih leluasa,” jelas Agung. (laz)