RADAR JOGJA – Pandemi korona justru berdampak positif terhadap industri gerabah. Perajinnya ketiban rejeki setelah menerima banyak pesanan. Seperti perangkat pendukung kesehatan berupa wastafel. Tapi, pot gerabah menjadi komoditas yang paling diminati. Mengikuti naiknya tren pecinta tanaman.

Hal itu diungkap oleh pengelola Koperasi Kasongan Usaha Bersama (KUB) Sundari. Koperasi yang dikelola Sundari ini mewadahi para perajin di Kasongan. Tapi mayoritasnya adalah perajin gerabah. “Kami menyediakan bahan baku tanah liat bagi anggota,” paparnya saat ditemui di kantornya, Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Senin (14/9).

Sebelum adanya pandemi korona, Koperasi KUB rata-rata menerima permintaan dua pikap tanah liat. Tapi sekarang permintaan bisa sampai empat pikap per hari. Itu saja masih ada anggota yang tidak terlayani. Sebab koperasi ini hanya memberdayakan dua buruh.

Lonjakan permintaan tanah liat menandakan geliat gerabah melesat. Sundari menyadarinya. Sebab perajin sampai lembur untuk memenuhi pesanan. Bukan cuma itu, warga yang dulunya tidak berprofesi sebagai perajin turut ditarik. Untuk membantu menuntaskan pesanan. “Ada juga yang bukan perajin, tapi coba-coba bikin pot bunga. Eh laku,” ungkapnya.

Ya, melesatnya industri gerabah terdorong tren pecinta tanaman. Permintaan pot bunga berbagai ukuran melonjak. Khusus pot ukuran kecil, paling diminati. Karena dianggap mempercantik tampilan tamanan. Terutama tanaman kaktus mini. “Membuat jadi terkesan unik,” sebutnya.

Kendati begitu, Kasongan sempat mati suri. Pada awal pandemi korona, banyak showroom atau toko yang memilih tutup. Akibat takut tidak dapat membayar karyawan. Itu terjadi selama dua bulan. Adanya new normal membuat Kasongan kembali menerima kunjungan wisatawan. Tapi banjir pesanan justru berasal dari pasar online. “Sekarang perajin tidak lagi mengandalkan pesanan pelanggan, karena pembeli baru justru berdatangan,” ucap perempuan 38 tahun itu.

Ucapan Sundari terbukti nyata. Rima Nur Afifah contohnya. Gadis 26 tahun ini datang ke Kasongan untuk berburu gerabah murah. Rima baru saja memulai bisnis tanaman hias. Dan menggunakan Instagram sebagai media berjualan. Potret tanaman dengan pot gerabah ternyata lebih menarik pembeli. “Pembeli sering request pot gerabah,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, harga tanaman hias dengan pot gerabah lebih mahal. Perempuan yang juga guru matematika ini menjual tanaman dengan pot plastik dengan harga Rp 15 ribu. Tapi kalau dengan pot gerabah, harga tanaman terdongkrak menjadi Rp 27 ribu. “Paling mahal yang pot lukis, bisa sampai Rp 37 ribu,” jelasnya. (cr2/laz)