RADAR JOGJA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman terus mendata kontak erat kasus awal klaster Pasar Cebongan. Diketahui bahwa dua pedagang di pasar terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pasca tracing, ditemukan 17 kasus Covid-19.  Akumulasi kasus sementara mencapai 19 kasus.

Dari total kasus, jumlah pedagang Pasar Cebongan hanya 6 orang. Sementara sisanya atau 13 kasus adalah kontak erat keluarga dan lingkungan. Upaya pemetaan masih berlanjut selama beberapa hari ke depan.

“Perlu kami luruskan bahwa pedagang yang positif hanya enam orang. Diawali dari seorang penjual minuman yang merangkap penjaga MCK dan seorang pedagang,” jelas Kepala Disperindag Sleman Mae Rusni Suryaningsih ditemui di Pasar Cebongan, Selasa pagi (15/9).

Pasca temuan, pihaknya langsung melakukan pemetaan kasus. Kebijakan penutupan pasar ditempuh karena munculnya penularan generasi II. Tak hanya di lingkup para pedagang tapi juga keluarga dan lingkungan interaksi.
Mae menduga mobilitas manusia menjadi penyebab utama. Pasar, lanjutnya, menjadi pusat bertemunya orang dari berbagai wilayah. Konsekuensinya adalah potensi persebaran Covid-19 semakin tinggi.

Langkah antisipasi telah ditempuh dengan penerapan prokotol Covid-19. Walau begitu diakui olehnya kebijakan ini tak akan berjalan optimal jika elemen masyarakat di pasar masih abai terhadap prokotol Covid-19.

“Mobilitas komunitas pasar itu sangat tinggi. Baik pedagang, pembeli, maupun supplier. Seperti supplier sudah kami wajibkan memiliki surat keterangan sehat, tetapi kami tidak tahu jika ada penularan di perjalanan,” katanya.

Terkait sanksi, pihaknya tak ragu bertindak tegas. Penerapan ini turut menggandeng Satgas Covid-19 Pemkab Sleman. Termasuk keberadaan Gugus Tugas Covid-19 pasar dan Satpol PP Kabupaten Sleman.

“Saat ini sudah ada Peraturan Bupati Nomor 37.1 Tahun 2020. Kami akan kerja sama dengan gugus tugas pasar, wilayah, dan kabupaten, termasuk dengan Satpol PP untuk memberikan sanksi,” tegasnya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman masih melakukan tracing terhadap klaster ini. Ring utama adalah para pedagang di Pasar Cebongan. Perluasan wilayah menyasar kontak erat diluar lingkup pasar tradisional ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman Novita Krisnaini menuturkan ada 9 temuan baru. Seluruhnya berstatus pedagang pasar Cebongan. Seluruhnya terjaring dari rapid diagnostic test (RDT) kontak erat.

“Ada 9 pedagang pasar yang reaktif rapid tes, langsung lanjut swab tapi hasilnya belum keluar. Itu hasil tracing kemarin (14/9),” katanya.

Dia turut menuturkan adanya penambahan adanya kasus baru dalam klaster Pasar Cebongan. Hanya saja Novita enggan menjabarkan detil profil pasien berasal dari pedagang atau keluarga. Dia menjanjikan data baru pasien akan diinput pada hari ini.

“Data terakhir memang 19 kasus. Sebenarnya kemarin ada penambahan kasus baru, baru hari ini kemungkinan masuk data. Kami masih melakukan tracing pada kontak erat dari pedagang maupun keluarga pasien,” ujarnya. (dwi/tif)