RADAR JOGJA – Angin kerap berderu kencang. Itu tanda adanya berpotensi  fenomena Madden Julian Oscillation (MJO). Dan mengakibatkan masa pancaroba lebih panjang.

Pepohonan yang berayun membuat salah seorang warga, Sumarmi, cemas. Wanita 51 tahun ini lantas memanggil jasa pangkas pohon. “Saya khawatir, kalau dahan yang rapuh menimpa rumah,” ujarnya ditemui di teras rumahnya, Wirokerten, Banguntapan, Bantul Minggu (13/9).

Halaman rumah Sumarmi cukup luas, memuat delapan pohon sonokeling. Dahan pohon ini dikenal gampang rapuh. Dahan yang kering saat kemarau mudah patah jika diterpa angin kencang. Tidak mau ambil risiko, ibu dua orang anak ini memilih memangkasnya. “Soalnya rumah mertua saya kerubuhan pohon, dua tahun lalu. Kami nggak mau terulang lagi,” jelasnya tersenyum miris.

Terpisah, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIJ Reni Kraningtyas membenarkan tindakan Sumarmi. Sebab Indonesia berpotensi mengalami fenomena MJO. Sebuah fenomena yang diakibatkan oleh gelombang atmosfer pembawa pumpunan awan. Gelombang ini bergerak merambat dari barat, atau Samudera Hindia, menuju ke timur di sekitar ekuator melewati Indonesia.

Diungkap pula, MJO mengakibatkan durasi pancaroba lebih panjang. Dengan tiupan angin yang tidak menentu. Terprediksi, DIJ akan mengalami pancaroba akhir bulan ini sampai pertengahan Oktober. “Umumnya berpotensi mengakibatkan hujan durasi singkat disertai angin kencang,” paparnya.

Usai itu, barulah memasuki musim penghujan. Saat ini, dominan angin yang bertiup di DIJ asalnya dari Timur. “Menandakan masih musim kemarau,” tambahnya.

Senada, Manajer Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD Bantul Aka Luk Luk Firmasyah menyebut, petugas masih menetapkan Bumi Projotamansari berstatus siaga darurat kekeringan. Kendati permintaan droping air belum ada.

“Meskipun demikian, hingga musim penghujan datang, perlu kesiapsiagaan,” jelasnya. Sebagai rutinitas, juga menilik kasus di tahun-tahun lalu. Adanya wilayah yang membutuhkan droping air. Khususnya daerah perbukitan yang memiliki potensi kekeringan. Seperti Dlingo, Imogiri, Pundong, dan piyungan.

“Kalau pancaroba, kami masih menunggu info dari BMKG,” tandasanya. (cr2)