RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menutup Pasar Cebongan selama tiga hari. Berlaku mulai besok (15/9) hingga Kamis (17/9). Tindakan ini sebagai upaya preventif munculnya kasus terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di pasar tersebut.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Sleman setidaknya ada 19 kasus terkonfirmasi positif. Mayoritas adalah pedagang yang berjualan di beberapa blok. Sementara untuk kasus awal ada dua orang yang dinyatakan positif, yakni seorang penjaga kamar mandi dan seorang pedagang.

“Keputusan kami tutup 3 hari mulai besok. Kami bersihkan semua dan ini alternatif (pilihan) pahit bagi kami,” jelas Sekretaris Daerah Pemkab Sleman Harda Kiswaya ditemui di Kantor Setda Pemkab Sleman, Senin (14/9).

Munculnya kebijakan ini pasca meluasnya sebaran kasus. Awalnya hanya satu blok pedagang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Upaya sterilisasi dilakukan dengan menutup blok tersebut. Pasca tindakan medis muncul sebaran kasus lainnya. Mayoritas berada di luar blok sebaran utama.

“Awalnya satu blok, ternyata ditracing bertambah di luar blok yang kemarin. Sehingga sudah lebih dari satu blok. Sebenarnya tidak akan menutup kalau hasil tracing tidak lebih dari satu blok,” katanya.

Penutupan ini menjadi dilematis tersendiri bagi jajarannya. Salah satunya adalah efek psikologis bagi pedagang maupun pembeli. Pasca pengumuman tentu berdampak pada kunjungan pasar. Dia berharap warga maupun pedagang memahami tindakan ini sebagai upaya meminimalisir persebaran kasus.

Di satu sisi Harda menyadari upaya penutupan juga tindakan yang tepat. Jangka panjang adalah memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung. Tentu setelahnya tetap wajib menerapkan protokol Covid-19 secara disiplin.

“Efek penutupan tiga hari ini memulihkan rasa percaya khususnya pengunjung atau pembeli. Mungkin bisa lebih dari sebulan untuk memulihkan rasa percaya,” ujarnya.

Munculnya kasus di pasar tradisional tentu menjadi catatan. Salah satu kunci adalah penerapan protokol Covid-19 secara ketat dan disiplin. Termasuk pengawasan alur mobilisasi para pedagang maupun supplier.

“Mobilitas pedagang atau suplier ini yang jadi masalah. Seperti ikan ambil dari Semarang, sayuran dari Magelang, bawang dari Pantura. Memang sudah ada yang pakai surat keterangan sehat, tapi di jalan bisa mampir kemana-mana,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Mae Rusmi Suryaningsih memastikan pengawasan protokol Covid-19 berlaku ketat. Walau diakui olehnya tidak mudah mengatur disiplin protokol. Sehingga perlu ditambah upaya patroli oleh petugas keamanan dan lurah pasar.

Khusus untuk Pasar Cebongan, pihaknya akan menggandeng PMI Sleman. Kaitannya adalah sterilisasi dengan alat dan teknik khusus. Upaya ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut hingga Kamis (17/9).

“Kami kerjakan dengan PMI (Sleman). Semprot dengan sprayer (yang) lebih bagus. Tiga hari kedepan kerjasama untuk lakukan penyemprotan di Pasar Cebongan,” ujarnya. (Dwi)