RADAR JOGJA – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jogja Yunianto Dwi Sutono mengakui, revitalisasi pasar di Jalan Parangtritis itu mundur. “Iya ini sempat molor karena gagal lelang dua kali,” katanya, Minggu (13/9).

Awalnya ditarget dimulai pada awal 2019 tapi baru bisa dimulai sejak 15 Oktober 2019 dengan masa pelaksanaan 240 hari. Dan target selesai sebelumnya pada 11 Juni 2020. Selama satu bulan konstruksi hingga 22 November 2020. “Yang jelas mulai awal 2019 lelang pertama gagal. Lanjut lelang kedua  gagal lagi dan lanjut lelang ke 3 berhasil,” ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini pasar yang baru tengah menunggu proses penyerahan aset dari pemerintah pusat ke pemkot Jogja. Setelahnya, harus melakukan pengecekan barang-barang yang sesuai dengan daftar pedagang yang ada.

Direncanakan peresmian atau launching gedung pasar yang baru itu pada Desember 2020. Setelah melalui berbagai tahap yaitu keluarnya berita acara terkait penyesuaian kondisi pedagang, barang-barang yang akan dijual dengan gedung yang baru. Sosialisasi kepada 619 pedagang pada akhir September terkait mekanisme pengisian. Adanya simulasi, penataannya juga akan disesuaikan dengan protokol kesehatan Covid-19. Setelah itu mulai penempatan kembali pedagang, rencana sekitar Oktober. “Launching harapan kami bulan Desember. Pembangunan yang lantai empat top floor untuk ekonomi kreatif berbasis gandeng gendong ini juga sudah siap,” jelasnya.

Mantan Kepala Kantor taman pintar itu menambahkan, pedagang akan ditempatkan sesuai zonasi masing-maising yaitu sesuai dengan jenis barang yang dijual untuk ditempatkan di lantai 1, 2, dan 3. Ada hal-hal yang sudah disampaikan kepada para pedagang antara lain pedagang dilarang menuntut tempat yang sama. Harus menyesuaikan yang dijuak dengan los yang disediakan. Pedagang tidak harus berjualan seperti  awal mula atau bisa berganti jenis dagangannya. “Karena memang pasar modern kalau jualnya tidak sesuai dengan kualifikasi pasar modern,” ucapnya.

Kepala Bidang Penataan, Pengembangan, dan Pendapatan Pasar Disperindag Kota Jogja, Gunawan Nugroho Hutomo menambahkan, di setiap los sudah terdapat fasilitas yang tersedia seperti meja untuk menaruh barang dagangan dan ada lemari penyimpan untuk menyimpak stok dagangan. “Lemari kotak besar sudah tidak bisa lagi dibawa,” tambahnya.

Menurutnya, fungsi pasar yang baru saat ini tidak hanya sebagai pasar konvensional tetapi juga ke depan juga bisa dikembangkan untuk UMKM, wisata maupun budaya. Tidak hanya perubahan fiaik yang nampak namun juga perubahan perilaku. “Jadi kalau pasarnya semakin bersih dan nyaman, pakai eskalator maka pembeli akan semakin banyak juga. Belanjanya juga nanti pakai troley, pembayaran diarahkan non tunai semua,” imbuhnya. (wia/pra)