RADAR JOGJA – Menaranya setinggi 68 meter. Ada lift yang mengantarkan ke puncak. Masjid Agung Dr Wahidin Soedirohoesodo Sleman menjadi salah satu rumah ibadah paling ikonik di Bumi Sembada.

Masjid Agung Dr Wahidin Soedirohoesodo berdiri di atas tanah seluas sekitar tujuh hektare. Tepatnya, di Jalan Parasamya Dusun Beran Lor, Desa Tridadi, Kecamata Sleman, Kabupaten Sleman. Masjid  ini banyak digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan hingga sosial.

Masjid ini dibangun Pemerintah Kabupaten Sleman. Diresmikan 25 Juni 1990. Dibangun untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah pada waktu itu.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekertariat Daerah Kabupaten Sleman Iriansya mengatakan, berdirinya masjid tersebut diprakarsai Bupati Sleman Suyoto Projosuyoto Hadiningrat pada 1985. Prakarsa itu didukung anggota DPRD Kabupaten Sleman Sukidi Cokrosuwignyo dan dosen IAIN Sunan Kalijaga Sholeh Harun.

Peletekan batu pertama dilakukan 20 Mei 1986. Direncanakan oleh pengembang CV AKA Jogjakarta dan dikerjakan PT Punokawan Jogjakarta. Pembangunan selama empat tahun. Anggaran sekitar Rp 1 miliar.

Iriansya menyampaikan, dasar dibangunnya Masjid Agung Dr Wahidin Soedirohoesodo adalah untuk menfasilitasi masyarakat Kabupaten Sleman, khususnya tempat ibadah bagi umat Islam. Kehadiran masjid ini sekaligus ditujukan untuk tempat konsultasi, komunikasi, ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan bagi umat Islam.

Di luar kegiatan keagamaan, masjid ini juga difungsikan sebagai tempat olaharaga dan gedung pertemuan untuk kegiatan tertentu. Masjid tersebut memiliki moto layanan Dari Masjid Membangun Masyarakat Sleman yang Madani.

Nama masjid tersebut diambil dari pahlawan nasional kelahiran Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, yakni Dr Wahidin Soedirohoesodo. Dia merupakan dokter medis yang sangat peduli dengan pentingnya pendidikan bagi masyarakat Jawa pada masa penjajahan Belanda. Dia juga punya andil dalam berdirinya Boedi Oetomo, sebuah organisasi kepemudaan yang menjadi cikal bakal tercapainya kemerdekaan Indonesia.

”Dr Wahidin Soedirohoesodo merupakan salah satu tokoh nasional yang lahir di Sleman dan perannya sangat penting bagi bangsa Indonesia. Dikarenakan hal itu, oleh bupati yang memprakarsai pembangunan masjid ini nama tersebut diambil sebagai nama masjid agung di tingkat kabupaten. Untuk konsep bangunannya, masjid ini murni memakai konsep budaya Jawa,” ujar Iriansya saat ditemui di kantornya pada Selasa (8/9).

Masjid Agung Dr Wahidin Soedirohoesodo banyak mengalami pengembangan sejak diresmikan. Pada periode kepemimpinan Bupati Sleman Arifin Ilyas pada 1990 sampai 2000, dilakukan area perkantoran pemerintah. Di dekat masjid terdapat kantor bupati, kantor dewan, kantor kejaksaan, dan pengadilan agama. Hal tersebut memiliki makna adanya kedekatan antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif sekaligus melambangkan persatuan dan kesatuan antara umara, ulama, zu’ama, dan cendekia.

Ketika masa jabatan Bupati Sleman Ibnu Subiyanto (2000-2005), kompleks perkantoran Pemkab Sleman dipusatakan di Beran dan berdekatan dengan masjid. Ibnu mencetuskan penyelenggaraan salat berjamaah dan pengajian bersama pejabat dengan masyarakat di masjid tersebut.

Di masa jabatannya, Masjid Agung Dr Wahidin Soedirohoesodo juga resmi menyelenggarakan salat Idul Fitri perdana pada Jumat 6 Desember 2002.
Pada periode kedua yakni 2005-2010, Ibnu menjadikan masjid agung sebagai salah satu lokasi pembekalan jamaah calon haji dan penerimaan jamaah haji yang baru pulang dari Mekkah, Arab Saudi.

Pada masa kepemimpinan Bupati Sleman Sri Purnomo (2010-2015), Masjid Agung Dr Wahidin Soediro sempat difungsikan sebagai tempat pengungsian bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat erupsi Gunung Merapi pada 2010. Seribu warga terdampak bencana mengungsi di masjid tersebut kurang lebih selama sebulan.

Sri Purnomo kembali mengembangkan masjid ini pada periode kedua kepemimpinannya 2016-2021. Menara setinggi 68 meter dibangun. Lengkap dengan fasilitas lift. Menara itu diresmikan 22 Februari 2019. Menara ini diklaim sebagai menara paling tinggi di Jogjakarta.

Dikutip dari Pemkab Sleman, pembangunan menara masjid berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) APBD Sleman 2016 sebesar Rp 11,5 miliar. Pada tahun anggaran 2017 dianggarkan sebesar Rp 8 miliar. Sedangkan untuk biaya penyempurnaan menara dianggarkan sekitar Rp 3,5 miliar.

Menara ini memiliki delapan lantai. Komponen bangunan menara terdiri bangunan cor menara setinggi 68 meter dengan diameter 3,6 meter. Letak fungsi mesin lift sampai diketinggian 56 meter. Lantai 1 seluas 16 x 16 meter persegi berfungsi sebagai ruang lobi dan ruang pengelola atau takmir. Lantai 2 seluas 16 x 16 meter persegi yang berfungsi sebagai ruang perpustakaan dan poliklinik. Lantai 3 seluas 16 x 16 meter persegi berfungsi sebagai ruang pertemuan,

Lantai 4 seluas 16 x 16 meter persegi berfungsi sebagai ruang pandang 1. Lantai 5 seluas 12 x 12 meter persegi berfungsi sebagai ruang pandang 2. Lantai 6 seluas 6,7 x 6,7 meter persegi berfungsi sebagai ruang pandang 3. Lantai 7 seluas diameter 6,5 meter persegi dengan elevasi 55 meter berfungsi sebagai ruang pandang puncak menara. Lantai 8 seluas diameter 3,6 meter persegi berfungsi sebagai ruang lift.

”Di menara Masjid Agung Sleman, ada kantor Baznas Kabupaten Sleman, MUI, perpustakaan, dan gedung pertemuan. Ruangan paling atas merupakan ruang pandang yang terbuat dari kaca dan bisa untuk melihat pemandangan dari atas ketinggian. Sementara kapasitas masjid bisa menampung lebih dari enam ribu jamaah,” terang Iriansya. (inu/amd)