RADAR JOGJA – Kepribadian mempengaruhi seseorang dalam menghadapi suatu permasalahan, terutama situasi pandemi Covid-19. Suasana lockdown, tidak boleh ke mana-mana, setiap keluar rumah diwajibkan untuk memakai masker, dan kondisi sosial ekonomi yang berubah drastis dapat mempengaruhi kebiasaan dan kepribadian seseorang. Ada lima dimensi dasar kepribadian yang sering disebut sebagai ciri kepribadian “Big 5 atau Kepribadian Model Lima Besar”. Menurut Goldberg lima ciri kepribadian luas yang dijelaskan oleh teori ini adalah extraversion, agreeableness, openness, conscientiousness, dan neuroticism.

Kepribadian Model Lima Besar dapat menangkap keteraturan dan perbedaan kepribadian antara orang-orang. Kepribadian extravert cenderung memiliki jaringan sosial yang lebih luas dan selalu bisa memberikan bantuan kepada orang lain dibandingkan dengan introvert. Individu yang cenderung introvert, kurang suka bersosialisasi, sering memendam masalah sendiri, rentan muncul ide bunuh diri, terutama saat menghadapi masalah yang berat. Sebaliknya,seseorang yang memiliki kepribadian openness dapat mempengaruhi secara positif tingkat kesejahteraan hidupnya, karena mereka memiliki sikap penasaran dan mudah terbuka terhadap pengalaman yang baru .Agreeableness membuat orang menjadi suka menjadi mitra untuk bertukar pendapat karena sikap agreeableness memiliki kecenderungan lebih sigap menanggapi kebutuhan orang lain. Kontrol diri merupakan salah satu kekuatan seseorang yang memiliki kepribadian conscientiousness. Orang-orang yang memiliki  kepribadian conscientiousness tidak hanya dianggap lebih dapat dipercaya, tetapi sebenarnya lebih dapat diandalkan, karena mereka lebih cenderung untuk melakukan aksi balas budi. Sementara itu, kepribadian neuroticism cenderung tidak menginginkan untuk membuat jaringan sosial.

Penulis melakukan survei online pada bulan Mei 2020 terhadap mahasiswa Indonesia dengan sampel sebanyak 210 mahasiswa. Jika dijabarkan menurut Kepribadian Model Lima Besar, 29 % mahasiswa memiliki kepribadian agreeableness, 9 % conscientiousness, 3 % extraversion, 8 % neuroticism, dan 52 % oppennes. Sebanyak 82 % mahasiswa merasa pemahamannya tidak lebih baik dengan pembelajaran online. Tidak ada perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Akan tetapi, mahasiswa yang berumur 24 tahun ke atas porsi yang mengatakanpemahamannyatidak lebih baik, lebih sedikit yaitu sebesar 69 %. Untuk mahasiswa S1 sebesar 17 % menjawab pemahamannya lebih baik dengan pembelajaran online, sedangkan mahasiswa S2 dan S3 porsi tingkat pemahamannya lebih baik dengan pembelajaran online lebih besar yaitu sebesar 40 %. Ketika dijabarkan dengan menggunakan Kepribadian Model Lima Besar, yang paling banyak mengatakan pemahamannya tidak lebih baik dengan pembelajaran online adalah mahasiswa yang memiliki kepribadian neuroticism yaitu sebesar 94 %. Sementara itu, mahasiswa yang memiliki kepribadian yang lainnya (agreeableness, conscientiousnessextraversion, dan oppennes) porsi pemahamannya tidak lebih baik dengan pembelajaran online di bawah 90 %.

Untuk membentuk individu yang memiliki jalinan sosialyang baik maka diharuskan tetap ada kontak sosial dua arah. Akan tetapi yang terjadi saat ini sebagian besar kontak sosial yang dilakukan hanya searah. Dosen memberikan makalah kemudian mahasiswa membaca dan memahami sendiri, setelah itu mahasiswa langsung diberikan tugas. Hal ini membuat mahasiswa merasa tidak nyaman ketika melakukan pembelajaran online. Mereka menganggap bahwa dosen kurang maksimal dalam penyampaian materi perkuliahan yang sedang berlangsung dan beberapa mahasiswa juga merasa masih belum paham. Frekuensi tugas yang meningkat juga menjadi faktor penyebab gejala ketidaknyamanan mahasiswa. Kendala yang lain berupa akses internet, mahasiswa merasa terbebani dengan biaya untuk mengakses internet, ditambah lagi ketika mereka melakukan kuliah online mahasiswa merasa belum maksimal dalam memahami materi perkuliahan sehingga pengeluaran yang dilakukan dirasa kurang sepadan.

Ada 7 tips yang diberikan oleh Mendikbud Nadiem Makarim dan bisa digunakan untuk solusi masalah ini. Salah satu tips yang dapat digunakan untuk mahasiswa yang berkepribadian neuroticism adalah membagi kelompok belajar sesuai dengan kompetensi yang sama. Dalam pembagian kelompok belajar tersebut sesama mahasiswa diharapkan mampu saling bergotong royong, saling memberi masukan, dan saling mengevaluasi hasil dari belajar mereka. Untuk kedepannya agar pembelajaran online ini bisa menjadi lebih baik, dosen diharapkan mampu memberikan penjelasan lebih baik. Mahasiswa juga harus mengikuti proses pembelajaran dengan benar. (*)

*) Penulis adalah peneliti
SurveyMETER