RADAR JOGJA – Dua warga Gunungkidul bunuh diri. Pemicunya, diduga karena putus asa, menjalani beban hidup. Peristiwa tersebut menambah panjang daftar kasus gantung diri di kabupaten berjuluk Handayani.

Berdasarkan data kepolisian,  dua kasus bunuh diri Kamis (10/9) hanya berselang kurang dari lima jam. Kasus gantung diri pertama di Padukuhan Ngloro Rt 05/01, Kalurahan Ngloro, Kapanewon Saptosari. Korbannya, Tarmorejo, 80. Peristiwa nahas itu diketahui pada pukul 05.30.

Kapolsek Saptosari, AKP Awal Mursayanto mengatakan, dari hasil olah TKP saksi mata, Jumiran bangun tidur  menuju kamar mandi, melihat korban tergantung dekat bak penampungan air. “Petugas menemukan sepotong kain berukuran panjang 125 cm, dengan lingkar ikatan di leher sepanjang 37 cm,” kata Awal Mursayanto.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh pelaku. Sementara pemicu bunuh diri diduga karena putus asa akibat penyakit menahun. Bahkan semasa hidup sering mengungkapkan keinginan mati.

Sementara itu, kasus gantung diri kedua, hanya selang beberapa jam, terjadi wilayah Pedukuhan Bulurejo, Kalurahan Tambakromo, Ponjong. Warga setempat Gito,58, ditemukan gantung diri di dalam kamar mandi umum Balai Kalurahan Bulurejo.

Kapolsek Ponjong Kompol Sudono mengungkapkan laporan peristiwa itu diterima sekitar pukul 09.30. Saat ditemukan, Gito dalam kondisi tergantung kerangka langit-langit kamar mandi. Tali yang digunakan untuk mengakhiri hidupnya berupa kain selendang. ”Diduga pemicu bunuh diri lantaran menderita sakit tak kunjung sembuh,” kata Sudono.

Pihak keluarga kemudian mengaitkan prilaku aneh pelaku ketika masih hidup. Sebelum diketahui gantung diri diketahui sering melamun dan menyendiri. Tanda-tanda itu kemudian menjadi bagian akhir perjalanan hidup pelaku sebelum bunuh diri.

Terpisah, Kasubag Humas Polres Gunungkidul, Iptu Eny Nur Widyastuti mengungkapkan adanya  lonjakan tajam kasus bunuh diri di masa pandemi Covid-19.  Tahun ini mencapai 23 kasus. ”Gantung diri 20 kasus dan 3 kasus minum racun. Untuk hari ini saja ada dua kejadian gantung diri,” kata Eny Nur Widyastuti.

Dibagian lain, Psikiater Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari Ida Rochmawati mengatakan, salah satu pemicu penyebab bunuh diri dikarena depresi. Dengan demikian penderita gangguan jiwa tersebut perlu pertolongan. “Ganguan kejiwaan terbagi dalam tiga kategori, ringan, sedang dan berat,” kata Ida.

Ciri-ciri orang mengalami gangguan jiwa ringan seringkali stres, depresi atau mengalami suatu keadaan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Ganguan jiwa, khususnya penderita depresi bisa berdampak fatal.

“Kami berharap ada kerja sama lintas sektoral untuk bersama-sama melakukan penanggulangan. Salah satunya, mengantisipasi kejadian bunuh diri dengan sosialisasi tentang penting kesehatan jiwa,” ucap anggota Satgas Berani Hidup itu. (gun/bah)