RADAR JOGJA – Kondisi TPST Piyungan di Bantul,  mendapat perhatian khusus dari Komisi C DPRD DIJ yang melakukan inspeksi dan ke kawasan tersebut, Kamis (10/9). Perkembangan proyek pembangunan fisik kawasan tersebut dirasa belum memuaskan. Wakil Ketua Komisi C Gimmy Rusdin menjelaskan, selama dua tahun ini pengelolaan TPST Piyungan mendapat banyak sorotan. Pihaknya menyesalkan tidak adanya laporan tertulis yang jelas dari pengelola tentang perkembangan pembangunan.

“Masa buat leaflet saja sulit, padahal anggaran proyeknya Rp 50 miliar,” keluhnya di sela kunjungan.

Disebutkan proyek ini memakan anggaran sekitar Rp 50 miliar. Sebanyak Rp 10 miliar menggunakan APBD DIJ dan Rp 40 miliar dari dana APBN. Gimmy juga mengkritisi banyaknya TPA rumah tangga yang ada di kawasan jalan menuju TPST Piyungan. Menurutnya itu harus dijadikan satu, tidak terpisahkan.

“Seharusnya jangan di jalan-jalan seperti itu,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPESDM DIJ Arief Azazie Zain menyatakan TPST Piyungan akan ditutup setelah 2022 karena usia teknisnya sudah lewat. Proyek yang dilakukan saat ini salah satunya membangun talud supaya sampah tidak tumpah.

“Setelah ditutup nanti akan dijadikan gunung terasering dengan ketinggian 40 meter,” jelasnya.

Saat ini TPST Piyungan masih menerima 600-650 ton per hari. Lahan 10 hektar itu perlahan ditutup dengan talud, dipasangi saluran irigasi, pipa lindi, dan dibuatkan jalan operasional baru. Proyek dengan APBD DIJ ditargetkan selesai Desember 2020. Namun sampai sekarang Arief mengakui, baru 30 persen proyek yang terselesaikan.

“Kontrak pekerjaan mulai 1 Juli, dan penyerahannya tanggal 27 Desember. Insyaallah Desember selesai,” tandasnya. (sky/tif)