RADAR JOGJA – Penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Jogja terus bertambah. Mayoritas dengan status OTG. Pemkot Jogja sedang mengupayakan untuk mengusahakan shelter baru.

Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, perkembangan kasus yang terjadi menuntut untuk lebih waspada terhadap sebaran OTG. Selama ini sudah mengupayakan hotel, tetapi sebagian besar saat ini sudah ada tamu yang menginap. Sedangkan mess atau balai diklat hampir semuanya sedang digunakan untuk pendidikan. “Maka saat ini sedang mengupayakan beberapa yang memungkinkan, termasuk opsi untuk membuat rumah sakit lapangan jika tidak segera ditemukan tempat yang layak dan memadai,” tuturnya Selasa (8/9).

Usulan penyediaan shelter juga diungkapkan anggota Komisi D DPRD kota Jogja Muhammad Ali Fahmi. Menurut dia, dalam Peraturan Menteri Kesehatan pasien OTG dapat melakukan isolasi mandiri di rumah. Padahal dimungkinkan OTG tersebut tinggal serumah dengan balita atau lansia yang rawan tertular. Sehingga pengadaan shelter dirasa perlu saat ini. “Bisa pakai gedung pemkot yang tidak digunakan, tentu dengan fasilitas yang memadai,” sarannya.

HP menjelaskan, untuk kasus pedagang di Malioboro, jumlah terkonfirmasi positif bertambah menyusul hasil tracing. Yaitu anak almarhum yang selama ini tinggal bersama dan merawat. Sedangkan enam lainnya masih menunggu giliran di swab. “Termasuk pedagang juga, untuk kasus ini proses tracing masih terus dikembangkan, termasuk untuk melakukan swabnya,” katanya.

Kasus baru lagi muncul di Kotabaru. Dari semula seorang laki-laki menularkan kepada seorang Lurah dan Kasat Linmas kelurahan. Dari kasus ini, terkonfirmasi ada dua ASN dan dua tenaga teknis pemkot positif. “Dua karena kasus Kotabaru, dan dua dari pembeli soto Lamongan. Sedangkan enam pembeli soto Lamongan dari ASN, hasil swabnya negatif,” ujarnya.

Sementara, kasus KUA ada penambahan satu terkonfirmasi positif yaitu salah seorang staf kantor KUA tersebut. Dari sebelumnya lima positif dari tujuh karyawan atau staf kantornta. Kasus ini juga masih terus dilakukan tracing untuk bisa mencegah sebaran virusnya dari kasus KUA. “Kasus KUA, Pedagang Malioboro dan kasus Penjual kelontong berada di Danurejan semua, tapi tidak saling terkait dalam sebaran virus koronanya,” jelasnya.

Selain itu, dari kasus soto lamongan ada penambahan kasus positif yaitu dari empat pembeli soto. Diantara pembeli ada yang hanya membeli dan makan di rumah dan terpapar positif. Selebihnya makan warung soto lamongan. Total kasus soto lamongan ada 21 terkonfirmasi positif, satu diantaranya seorang pedagang soto.

Menurutnya, penularan bisa terjadi dari benda-benda yang bisa saling disentuh. Baik dari piring, mangkok dan gelas, bahkan plastik pembungkus soto yang dimakan di rumah. “Maka protokol Covid-19 di rumah makan, warung resto dan kafe juga harus memperhatikan peralatan yang bisa saling disentuh bergantian,” pesannya. (wia/pra)