RADAR JOGJA – Hoaks atau kabar bohong terkait Covid-19 masih menjadi momok. Tak hanya untuk para penyitas maupun tenaga kesehatan. Warga, yang dekat dengan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 pun harus mendapat stigma dan diskriminasi.

Yang terbaru dialami Vivi Trisnasari. Pemilik toko sepatu Nam Hien di Malioboro ini merasa menjadi korban stigma negatif terkait kasus meninggalnya PKL Malioboro dengan status positif Covid-19. Dia ditolak saat bertandang ke rumah saudaranya karena dikira tertular. “Saya malah dimaki-maki, kenapa jalan-jalan, dikira saya ini OTG (orang tanpa gejala),” tuturnya Selasa (8/9).

Dampaknya juga dirasakan di sektor ekonomi. Pembeli yang datang ke toko-toko di Malioboro turun karena adanya hoaks tersebut. Bahkan ada suplier yang membatalkan pengiriman karena takut tertular. “Ada juga yang sudah deal sewa toko Rp 400 juta akhirnya batal,” ungkap Vivi yang juga sebagai Ketua RT 35 RW 9 Sosromenduran, Gedongtengen, harus memberi klarifikasi ke warganya yang bertanya.

Itu bermula dengan beredarnya broadcast hasil penelusuran awal dari Puskesmas Gedongtengen ke masyarakat. Dalam broadcast tersebut ditulis jelas nama PKL yang meninggal, lokasinya berjualan yang berada di depan toko Vivi hingga nama Vivi dan ibunya sebagai kontak erat. Dia pun mengklarifikasi tidak pernah kontak langsung dengan PKL tersebut.

Vivi mengisahkan, PKL yang berjualan di depan tokonya tersebut sudah absen berjualan sejak 25 Agustus lalu. Hingga akhirnya mendapatkan kabar pada 4 September lalu dia meninggal. Dia juga mengaku, selama pandemi Covid-19 ini selalu melakukan disinfeksi di sekitar tokonya. Termasuk di lapak PKL di depan tokonya. “Selama pandemi ini tidak pernah berinteraksi dengan PKL, ada buktinya di rekaman CCTV,” tegasnya.

Kepala Puskesmas Gedongtengen dr Tri Kusumo Bawono yang mendampingi pun mengamini. Tri menginformasi broadcast awal yang beredar harusnya untuk konsumsi internal. Setelah melakukan konfirmasi, hasilnya data di laporan awal tersebut tidak valid. Tapi keburu tersebar ke masyarakat. Dia juga menyayangkan, laporan tersebut ditambah keterangan; info valid, A1, hingga broadcast terkait happy hypoxia. Bahkan imbauan untuk tidak datang ke Malioboro. “Kesalahannya, harusnya untuk internal tapi bocor keluar dan ditambah-tambahi informasi yang sebenarnya tidak terkait,” ujarnya.

Pihak puskesmas yang bertugas melakukan tracing-pun kini masih kesulitan untuk mengontak para PKL di sekitarnya. Itu karena para PKL di sana memilih isolasi mandiri. Dia mengaku belum berhasil melakukan kontak. Info terkait nama-nama kontak erat yang diperoleh Gugus Tugas Covid-19 Kota Jogja pun berasal dari Vivi. “Hasil klarifikasi kami Vivi bersama ibunya tidak termasuk kontak erat,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, dokter teladan DIJ 2019 itu juga mengeluhkan masih maraknya hoaks terkait kesehatan, khususnya Covid-19. Dia mengaku sudah meminta untuk dokter-dokternya menjadi bagian dari Satgas Covid di grup-grup warga. Fungsinya untuk memberi edukasi serta menangkal hoaks di masyarakat. Meski diakuinya itu bukan perkara mudah memberi pengertian ke masyarakat. “Banyak informasi share broadcast yang belum terkonfirmasi, meski yang menjelaskan dokter pun kadang tidak dipercaya,” katanya. (wia/pra)