RADAR JOGJA – Dampak pemeliharaan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan dirasakan oleh warga Desa Bawuran, Pleret, Bantul. Air lindi dari TPST Piyungan merembes ke permukiman penduduk. Sumur warga sudah tercemar.

Kepala Seksi (Kasi) Kesejahteraan Desa Bawuran Hendri Santosa mengungkap, dirinya didatangi oleh warga Dusun Ngelngkong. Sebab sudah beberapa hari air lindi TPST Piyungan merembes ke permukimannya. “Siang (7/9), saya cek kelokasi dan benar. Air limbah masuk ke permukiman,” ujarnya ditemui usai sosialisasi konstruksi jalan kawasan TPST Piyungan Selasa (8/9).

Hendri berharap segera ada solusi untuk permasalahan warganya itu. Sebab sumur warga mulai berubah warna menjadi coklat. Senada, perwakilan warga Ngablak, Sitimulyo, Piyungan, Bantul Tukiman juga mendesak adanya solusi air bersih. Sebab warganya sudah tidak dapat lagi menggunakan air sumur. “Kami kekurangan air bersih, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sudah ndak mencukupi,” keluhnya.

Tukiman pun mengajukan usulan, agar lokasi pembuangan sampah dipindah. Sebab TPST Piyungan sudah overload. Juga berdampak bagi kesehatan warganya. “Ini beban kami (jika TPST Piyungan terus beroperasi),” sebutnya.

Terkait usulan Tukiman, Kepala Balai Pengelolaan Sampah TPST Piyungan Fauzan Umar menyebut tidak ada lokasi yang bersedia menjadi lokasi TPST baru. Sehingga solusi yang dapat dilakukan hanyalah mempertahankan keberadaan TPST Piyungan. “Kami sudah mencoba cari, tapi tidak ada lokasi yang tidak akan terdampak oleh aktivitas pembuangan sampah. Jadi kalau warga sekitar TPST Piyungan juga menolak, kami harus bagaimana?” ujarnya.

Sementara terkait rembesan air lindi yang masuk ke permukiman, Fauzan menyebut itu kewenangan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) sebagai pelaksana tugas untuk menjawab. “Saya juga baru dapat kabarya kemarin,” sebutnya. Namun, Fauzan mengusulkan warga membuat proposal. Isinya untuk meminta bantuan terkait penyediaan air bersih.

Sementara Kepala Bidang Energi Sumber Daya Mineral, DPUPESDM DIJ Edi Indrajaya mengaku belum tahu persis, terkait rembesan air lindi TPST Piyungan akibat pekerjaan yang dilakukan oleh dinasnya. Tapi dia mengaku akan mencermatinya. “Apakah karena pembangunan, kondisi lindi yang ada di pembangunan terdesak lalu meluap,” ucapnya.

Saat ini, DPUPESDM tengah mengerjakan empat kegiatan. Yaitu pembuatan talut sampah dengan bronjong. Membuat saluran air lindi menuju tempat pengolahan. Drainase penampung air hujan di luar saluran lindi. Dan pembuatan jalan operasional. (cr2/bah)