RADAR JOGJA – Proses pengajuan sumbu imajiner atau sumbu filosofis sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO terus berlanjut. Bahkan kini sumbu filosofis diklaim akan mewakili Indonesia. Mengalahkan kebun raya Bogor.

Pelaksana Tugas (Plt) Kundha Kabudayan atau Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ Sumadi menjelaskan, sumbu filosofis menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang diusulkan jadi warisan budaya dunia United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). DIJ dikatakan paling siap dan dan layak dalam upaya pengusulan ini. “Pengusulan sumbu imajiner DIJ bersamaan dengan Kebun Raya Bogor. Tetapi UNESCO menilai DIJ lebih siap dan lebih layak,” katanya Senin (7/9).

CAGAR BUDAYA: Pejalan kaki melintasi Kandang Menjangan, Krapyak, Sewon, Bantul, belum lama ini. Bangunan tersebut merupakan salah satu landmark di DIJ yang juga merupakan bagian dari sumbu filosofis DIJ.( ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA )

Menurut dia, sumbu filosofis dapat dikategorikan sebagai warisan budaya tak benda. Sebab objek budaya ini tak tampak fisiknya. Melainkan sebuah filosofi yang diyakini warga Jogja terkait keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan sang pencipta, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Sumbu filosofis DIJ dimulai dari pantai selatan DIJ, panggung Krapyak, Keraton Jogja, Tugu Jogja hingga Gunung Merapi. “Selama ini yang dilihat warisan budaya selalu berbentuk fisik. Namun DIJ lain, warisan budaya ini bukan fisik, namun berupa sumbu filosofi yang imajiner dan tak kasat mata,” jelas mantan Sekda Sleman itu.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X juga sudah memberi masukan, pemanfaatan kawasan pantai selatan yang juga menjadi bagian dari sumbu filosofis. Sehingga upaya pengusulan bisa memberi dampak nyata pada masyarakat pantai selatan. “Jadi tidak hanya sektor pertanian saja yang bisa memberi manfaat tapi laut juga,” kata dia.

Nantinya juga akan ada perbaikan disegala aspek yang mengitari sumbu filosofis. Salah satunya aspek transportasi. Juga peningkatan potensi pariwisata dan budaya, sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.  Tempat parkir bus Abu Bakar Ali yang ada di kawasan Malioboro pun akan ikut ditata. Sebab, dalam sumbu imajiner, arus kendaraan seharusnya tidak macet. “Nanti akan ada solusi untuk mengurai kemacetan di sana (sekitar Malioboro),” tambahnya.

Kepala Dewan Kebudayaan DIJ Djoko Dwiyanto mengatakan, aspek yang dibahas dalam pengajuan sumbu imajiner meliputi pariwisata, kebencanaan, dan perhubungan. Untuk aspek kebencanaan, tim pengusul sumbu imajiner telah menyiapkan upaya mitigasi bencana. “Karena harus diingat bahwa Jogja ini diapit oleh Gunung Merapi dan pantai Selatan,” terangnya.

Dia menambahkan, salah satu masukan yang diterima adalah melibatkan Imogiri kedalam rangkaian sumbu filosofi. “Sumbu filosofis tidak mungkin terpisah dari Imogiri. Jadi Sangkan Paraning Dumadi dari Imogiri berhubungan erat dengan Keraton. Tidak bisa dipisahkan,” lanjut Djoko.

Bulan ini proses penilaian akan dimulai. Sehingga diharapkan pada 2021 sumbu filosofis sudah memiliki predikat Warisan Budaya Dunia Tak Benda. Djoko berharap upaya pengsulan ini dapat diterima oleh UNESCO. “Insyaallah DIJ adalah satu-satunnya wakil Indonesia karena dinilai paling siap,” tuturnya. (tor/pra)