RADAR JOGJA – Satu pedagang kaki lima (PKL) di Malioboro meninggal dunia setelah terkonfirmasi positif Covid-19. Tapi aktivitas di sana tetap berjalan seperti biasa. Dengan pengetatan proke.

Pengawas dan Penasihat Koperasi Paguyuban PKL Malioboro Tri Dharma Rudiarto menyebut, terkait meninggalnya PKL tersebut merupakan kwewnangan Gugus Tugas. Dia mengaku tidak mengetahui persis kasus tersebut. “Saya enggak bisa berkomnetar dan tidak berkompeten,” katanya kepada Radar Jogja, Minggu (6/9).

Ketua Paguyuban Pelukis, Perajin, dan PKL Malioboro-Ahmad Yani (Pemalni) Slamet Santosa menyebut, setelah adanya kasus tersebut sebagian PKL di dekat lapak PKL yang meninggal tersebut memilih libur, selama sehari pada Sabtu (5/9). Mereka juga langsung mengikuti rapid test. Hasilnya, tidak ada PKL yang reaktif. “Ada yang sudah berjualan kembali, tapi dengan prokes yang lebih ketat,” ungkapnya.

Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan PKL yang terkonfirmasi positif itu meninggal pada Jumat (4/9). Dan sempat berjualan aktif dari tanggal 20-26 Agustus pagi sampai malam. Pada 27 Agustus diketahui tidak berjualan karena muncul gejala demam, lemas dan batuk. HP menjelaskan, 1 September yang bersangkutan memeriksakan ke puskesmas. Dan dibawa ke rumah sakit dengan hasil rapid tes reaktif. Setelah dilakukan swab test, 4 September hasilnya keluar terkonfirmasi positif. “Dan meninggal sore harinya. Dimakamkan malam hari itu juga di Kulonprogo,” ujarnya.

Dalam upaya tracing sejak Sabtu (5/9), dua ruas PKL di zona 3 yang terdapat delapan PKL sudah diliburkan. Kedua ruas itu berjualan berdekatan dengan perempuan 68 tahun yang meninggal tersebut. Pun kontak erat di keluarga maupun di lapak PKL Malioboro sudah diminta isolasi mandiri dan dilakukan tracing.  Sementara, PKL lainnya masih diizinkan berjualan. Sebab yang kontak erat sudah diliburkan dan melakukan isolasi mandiri. Termasuk, lanjut HP yang sempat salat berjamaah dengan almarhumah juga sudah diminta isolasi mandiri. “Kondisi di Malioboro masih aman. Penyebab penularan masih ditelusuri, apakah dari pembeli atau dari lainnya belum bisa ditentukan,” tuturnya.

Gugus tugas mendata sejak 18-27 Agustus pengunjung Malioboro yang mengisi QR Code di malioboro berjumlah 30.116 orang. Diantaranya pengunjung yang masuk zona 3 terdapat 3.698 orang. Tidak semua pengunjung masuk wilayah zona 3 ruas pedestrian barat. “Kami sudah punya nomor kontaknya. Saatnya nanti jika perlu untuk periksa akan dihubungi melalui WhatsApp untuk periksa,” tambahnya.

Menurut HP, melalui paguyuban PKL, sudah meminta agar PKL yang usia lanjut maupun memiliki penyakit bawaan dan tidak sehat agar tidak berjualan lebih dulu. “Kini, setelah kasus ini, semua paguyuban pedagang sudah melakukan penegakan protokol Covid-19 lebih intensif,” imbuhnya. (wia/pra)