RADAR JOGJA – Upaya edukasi terhadap hak siar dan hak kekayaan intelektual terus dilakukan oleh Mola TV Live Arena. Pemegang lisensi Premier League, Bundesliga dan Chinese Super League ini berharap tak ada lagi pelanggaran penyiaran pertandingan langsung di tempat-tempat komersial.

Berkaca pada kasus-kasus sebelumnya, tak sedikit yang melanggar regulasi ini. Terutama di kawasan hotel, cafe hingga restoran. Bahkan satu kasus sempat berlanjut ke ranah meja hijau. 

“Jadi untuk penyelenggaraan liga-liga tersebut harus seijin kami (Mola TV Live Arena). Khususnya yang masuk ranah korporasi dan komersial. Tidak boleh asal menyiarkan pertandingan,” jelas  Direktur Mix Network Bobby Christofer, Senin (7/9).

Jogjakarta, lanjutnya, merupakan surga bagi pelaku bisnis komersial. Artinya ada potensi pelanggaran hak cipta dari setiap sudutnya. Imbasnya adalah munculnya kerugian bahkan berlanjut ke meja hukum.

Upaya edukasi terus berlangsung setiap saat. Diawali dengan pemberitahuan ke seluruh pemilik dan manajemen pelaku usaha. Lalu berlanjut dengan pengawasan. Apabila terjadi pelanggaran maka diawali dengan peringatan bertahap.

“Untuk liga sendiri berlangsung 12 September dan ini akan intens pengawasannya. Nanti peringatan dulu, lalu somasi dan lanjut ke ranah hukum apabila masih berulang,” tegasnya.

Di satu sisi Bobby mengakui bahwa sebagian besar pelaku usaha di Jogjakarta sadar akan adanya hak siar. Beberapa cafe telah mendaftarkan diri dengan berlangganan khusus. Untuk selanjutnya dapat menyiarkan setiap pertandingan sepakbola di unit usaha masing-masing.

Acuan yang digunakan adalah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Secara tegas regulasi ini mengatur tentang sanksi pidana. Baik sanksi kurungan penjara maupun denda pidana.

“Jadi edukasi ini mengantisipasi munculnya pelanggaran lagi kedepannya. Agar tak asal broadcast tapi harus memahami regulasinya,” katanya.

Head of Business Operation Mix Network Dimas Fikhriadi mengakui upaya edukasi tidaklah mudah. Berdasarkan data tahun sebelumnya ada banyak pelanggaran di Jogjakarta. Bahkan tak jarang sengaja melanggar meski tahu ada regulasi hak siar.

Inilah yang menjadi catatan pihaknya dalam pengawasan. Berupa pemantauan secara acak kepada lokasi tempat usaha. Terutama kepada lokasi yang pernah atau berpotensi terjadi pelanggaran hak siar.

“Ada yang pura-pura tidak tahu tapi ada juga yang benar-benar tidak tahu. Sehingga ujung-ujungnya harus berurusan di koridor hukum. Kami juga tak ingin, itulah mengapa edukasi terus berlangsung. Tapi kami juga menerbitkan peringatan hingga somasi,” ujarnya. (dwi/tif)